News

Kerusakan DAS Barito Capai Titik Kritis: Industri Ekstraktif Picu Produksi Asam Sulfat

10 February 2026
09:58 WIB
Kerusakan DAS Barito Capai Titik Kritis: Industri Ekstraktif Picu Produksi Asam Sulfat
sumber gambar : mediaindonesia.gumlet.io
Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito dilaporkan semakin mengkhawatirkan, dengan tingkat kerusakan yang mencapai titik kritis akibat masifnya aktivitas industri ekstraktif di wilayah tersebut. Pembangunan kanal-kanal yang tidak mempertimbangkan karakteristik geologis tanah, khususnya keberadaan lapisan pirit, menjadi pemicu utama permasalahan lingkungan serius ini. Paparan pirit terhadap oksigen dan air memicu reaksi kimia yang menghasilkan asam sulfat, sebuah zat korosif yang sangat berbahaya bagi ekosistem sungai dan kesehatan manusia. Fenomena ini telah berlangsung selama beberapa waktu dan kini dampaknya semakin terasa, mengancam keberlanjutan sumber daya alam vital bagi jutaan penduduk.

Fokus permasalahan terletak pada praktik pembangunan infrastruktur yang kurang bertanggung jawab oleh sektor industri ekstraktif, seperti pertambangan batu bara dan perkebunan skala besar. Ketika kanal-kanal digali untuk akses atau drainase tanpa studi geologi yang mendalam, lapisan tanah yang mengandung pirit (besi sulfida) terangkat dan terpapar udara serta air. Proses oksidasi yang terjadi kemudian mengubah pirit menjadi asam sulfat, yang lalu larut dan mengalir ke sistem perairan, termasuk sungai-sungai dan anak sungai yang bermuara ke DAS Barito. Kurangnya mitigasi yang tepat dan pengawasan ketat terhadap standar lingkungan memperburuk situasi ini secara signifikan.

Dampak pencemaran asam sulfat terhadap ekosistem sungguh mengerikan. Kualitas air DAS Barito terus menurun drastis, menyebabkan tingkat keasaman (pH) air menjadi sangat rendah dan tidak layak huni bagi sebagian besar biota air. Ikan-ikan endemik dan organisme air lainnya terancam punah karena habitat mereka terkontaminasi oleh zat beracun ini, mengganggu rantai makanan secara keseluruhan. Vegetasi di sekitar sungai juga mengalami kerusakan, bahkan beberapa lahan pertanian warga yang bergantung pada irigasi dari sungai terpaksa gagal panen akibat air yang telah berubah menjadi asam. Situasi ini menciptakan efek domino yang merusak keseimbangan alam dan ekologi di sepanjang aliran sungai.

Lebih jauh, degradasi DAS Barito membawa implikasi serius terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Ribuan kepala keluarga yang menggantungkan hidupnya pada sektor perikanan dan pertanian di sepanjang sungai kini menghadapi krisis mata pencarian yang akut. Air sungai yang tercemar tidak hanya membahayakan hasil tangkapan ikan, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan serius bagi warga yang menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi dan mencuci. Potensi konflik sosial antara masyarakat dan perusahaan industri ekstraktif juga meningkat seiring dengan kekhawatiran atas masa depan sumber daya air mereka yang kian menipis dan tercemar.

Pemerintah daerah dan pusat didesak untuk segera mengambil tindakan tegas dalam menanggulangi kerusakan DAS Barito ini. Peninjauan ulang dan penegakan regulasi mengenai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta izin operasi perusahaan industri ekstraktif menjadi langkah krusial yang harus dilakukan. Selain itu, diperlukan adanya program rehabilitasi DAS yang komprehensif, melibatkan teknologi yang mampu menetralkan air asam dan merevegetasi lahan-lahan yang telah rusak. Keterlibatan aktif dari masyarakat adat dan organisasi lingkungan juga sangat penting dalam upaya pengawasan dan pemulihan lingkungan.

Tanpa intervensi yang serius dan terkoordinasi, ancaman terhadap DAS Barito akan terus berlanjut dan bahkan memburuk. Kehilangan fungsi ekologis DAS tidak hanya berdampak pada lingkungan lokal, tetapi juga berkontribusi pada perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati secara global. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil menjadi kunci untuk merumuskan solusi jangka panjang yang berkelanjutan. Masa depan DAS Barito sebagai jantung kehidupan di Kalimantan sangat bergantung pada komitmen kita untuk melestarikannya dari kerusakan lebih lanjut.

Referensi: mediaindonesia.com