ESDM Banten Tegaskan Aktivitas Tambang Ciwandan Bukan Pemicu Utama Banjir
7 January 2026
14:25 WIB
sumber gambar : static.republika.co.id
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Banten baru-baru ini mengeluarkan pernyataan penting terkait banjir yang melanda Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon. Pernyataan tersebut menepis anggapan umum yang menghubungkan secara langsung aktivitas pertambangan di wilayah tersebut sebagai penyebab dominan bencana hidrometeorologi. Menurut ESDM Banten, meskipun ada kegiatan pertambangan, faktor-faktor lain disinyalir memiliki dampak yang lebih signifikan terhadap terjadinya banjir. Klarifikasi ini diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih komprehensif mengenai akar permasalahan banjir di Ciwandan. Ini juga mendorong peninjauan ulang terhadap berbagai faktor penyebab banjir yang perlu ditangani secara holistik oleh semua pihak.
Kepala Dinas ESDM Provinsi Banten, dalam keterangannya, menjelaskan bahwa hasil kajian awal dan pemantauan lapangan menunjukkan kompleksitas penyebab banjir. Pihaknya menekankan bahwa curah hujan ekstrem dalam intensitas tinggi dan durasi panjang seringkali menjadi pemicu utama di daerah tersebut. Selain itu, kondisi topografi wilayah Ciwandan yang sebagian besar merupakan dataran rendah dan berdekatan dengan pesisir juga turut berperan signifikan. Kapasitas drainase yang mungkin belum memadai untuk menampung volume air yang besar juga menjadi salah satu pertimbangan krusial. Pernyataan ini berdasarkan analisis data iklim dan kondisi geologis setempat yang telah dilakukan.
Banjir di Ciwandan, Kota Cilegon, memang kerap menjadi perhatian publik, terutama setelah kejadian banjir besar yang menyebabkan kerugian material dan mengganggu aktivitas warga. Masyarakat seringkali mengaitkan banjir dengan deforestasi dan perubahan bentang alam akibat kegiatan pertambangan yang masif di wilayah sekitarnya. Persepsi ini muncul karena banyaknya izin pertambangan di daerah tersebut, yang dikhawatirkan merusak daerah resapan air dan menyebabkan erosi. Oleh karena itu, pernyataan dari ESDM Banten ini menjadi krusial untuk meluruskan pandangan yang berkembang di masyarakat. Ini juga membuka ruang diskusi yang lebih mendalam tentang penyebab sebenarnya dari bencana alam tersebut.
Selain faktor curah hujan dan topografi, ESDM Banten kemungkinan juga mempertimbangkan faktor antropogenik lainnya yang tidak terkait langsung dengan pertambangan. Misalnya, penyempitan saluran air akibat pembangunan infrastruktur yang tidak terencana dengan baik atau pembuangan sampah sembarangan yang menyumbat drainase kota. Konversi lahan hijau menjadi area permukiman atau industri juga secara drastis mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan. Perubahan tata guna lahan ini secara kumulatif dapat memperparah aliran permukaan dan meningkatkan risiko banjir secara signifikan. Semua faktor ini perlu dianalisis secara mendalam untuk menemukan solusi yang berkelanjutan dan efektif.
Dengan adanya klarifikasi ini, pemerintah daerah diharapkan dapat fokus pada penanganan masalah banjir dari berbagai sisi yang lebih luas. Langkah-langkah mitigasi yang lebih efektif dapat dirumuskan dengan mengidentifikasi penyebab-penyebab dominan secara akurat berdasarkan data ilmiah. Ini bisa meliputi perbaikan sistem drainase, normalisasi sungai, atau penegakan aturan terkait tata ruang dan pengelolaan lingkungan yang lebih ketat. Selain itu, peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan juga krusial dalam jangka panjang. Kolaborasi antarinstansi dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi persoalan banjir di masa mendatang.
Pernyataan dari ESDM Provinsi Banten ini menegaskan bahwa penanganan banjir memerlukan pendekatan multidisiplin yang tidak hanya menyalahkan satu faktor saja. Alih-alih hanya berfokus pada aktivitas pertambangan, pemerintah dan masyarakat perlu melihat gambaran yang lebih besar dari kompleksitas masalah ini. Diperlukan kajian lebih lanjut dan komprehensif untuk mengidentifikasi seluruh faktor risiko secara presisi, termasuk dampak kumulatif dari berbagai kegiatan. Tujuannya adalah merancang strategi pencegahan dan penanggulangan banjir yang berkelanjutan dan efektif. Ini demi menciptakan Ciwandan yang lebih tangguh terhadap bencana alam di masa mendatang dan memberikan keamanan bagi warganya.