News
IHSG Berpeluang Uji Resistansi 8.450 Di Tengah Aksi Borong Asing dan Kewaspadaan Global
25 February 2026
10:20 WIB
sumber gambar : images.bisnis.com
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal positif pada perdagangan hari ini, dengan peluang besar untuk menguji level resistansi krusial 8.450. Optimisme pasar ini sebagian besar didorong oleh aksi borong investor asing yang secara agresif mengakumulasi saham-saham unggulan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Meskipun demikian, para investor tetap diimbau untuk mempertahankan kewaspadaan tinggi terhadap potensi volatilitas yang bisa muncul sewaktu-waktu. Disiplin dalam menerapkan strategi `cut loss` juga menjadi kunci penting di tengah kondisi pasar global yang masih diselimuti ketidakpastian. Perkembangan ini menyoroti dinamika kompleks antara sentimen positif domestik dan bayang-bayang faktor eksternal.
Arus modal asing kembali menunjukkan kekuatannya di pasar saham Indonesia, terlihat dari aktivitas pembelian bersih yang signifikan terhadap beberapa emiten kunci. Saham-saham sektor perbankan, khususnya BBRI yang merupakan salah satu `blue chip` utama, menjadi incaran utama investor luar negeri berkat fundamentalnya yang solid. Selain itu, sektor pertambangan melalui ANTM juga tak luput dari bidikan mereka, menandakan potensi prospek yang dilihat pada komoditas tertentu di tengah potensi `supercycle`. Akumulasi asing ini bukan hanya sekadar pembelian sesaat, melainkan seringkali diinterpretasikan sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospektif ekonomi dan kinerja perusahaan di Indonesia. Fenomena ini memberikan dorongan substansial terhadap indeks, memicu harapan akan kelanjutan tren positif dalam jangka pendek.
Level resistansi 8.450 merupakan titik psikologis dan teknikal yang sangat penting bagi pergerakan IHSG. Apabila indeks berhasil menembus dan bertahan di atas level ini secara konsisten, sinyal `breakout` positif dapat terbentuk, membuka jalan menuju target resistansi berikutnya yang lebih tinggi. Namun, kegagalan menembus level tersebut justru bisa memicu aksi `profit taking` dan koreksi harga yang perlu diwaspadai secara seksama oleh investor. Pengujian resistansi ini akan menjadi cerminan kekuatan momentum beli dan tingkat keyakinan investor di pasar modal. Keputusan pasar di level krusial ini sangat penting untuk menentukan arah pergerakan IHSG dalam beberapa waktu ke depan.
Para analis pasar, termasuk dari lembaga sekuritas terkemuka seperti BNI Sekuritas, terus memonitor ketat pergerakan IHSG dan saham-saham unggulan yang menjadi penopang indeks. Mereka mencermati indikator teknikal serta fundamental yang mendukung maupun menghambat laju indeks. Beberapa pandangan menyebutkan bahwa `support` kuat IHSG saat ini berada di kisaran level 8.200-8.300, yang dapat menahan penurunan apabila terjadi koreksi tajam. Rekomendasi untuk saham-saham tertentu juga seringkali menyertai analisis ini, didasarkan pada proyeksi kinerja perusahaan dan kondisi makroekonomi yang terus berkembang. Investor disarankan untuk selalu memperhatikan riset dan analisis mendalam dari para ahli pasar sebelum mengambil keputusan investasi.
Faktor-faktor eksternal masih menjadi bayangan yang membayangi stabilitas pasar keuangan global, termasuk Indonesia, menciptakan ketidakpastian yang signifikan. Isu inflasi di negara-negara maju yang berpotensi memicu kebijakan moneter ketat, potensi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral global, serta ketegangan geopolitik yang terus berlanjut masih menjadi sumber utama ketidakpastian. Fluktuasi harga komoditas dunia juga dapat memengaruhi kinerja emiten yang bergerak di sektor terkait, baik secara positif maupun negatif, tergantung pada jenis komoditas. Kondisi global yang volatil ini menuntut investor untuk selalu berhati-hati dan tidak terbuai oleh euforia sesaat yang sifatnya temporer. Oleh karena itu, strategi investasi yang adaptif dan defensif menjadi semakin relevan dalam menghadapi gejolak pasar yang tak terduga.
Menghadapi prospek volatilitas yang tinggi, penting bagi investor untuk memiliki strategi manajemen risiko yang solid dan teruji. Penerapan `cut loss` secara disiplin adalah salah satu langkah fundamental untuk membatasi kerugian potensial ketika pasar bergerak tidak sesuai ekspektasi awal. Selain itu, diversifikasi portofolio investasi juga dapat membantu mengurangi risiko terkonsentrasi pada satu jenis aset atau sektor saja, sehingga meminimalkan dampak negatif dari kinerja buruk salah satu komponen. Investor perlu senantiasa melakukan evaluasi ulang secara berkala terhadap posisi investasinya dan tidak ragu untuk menyesuaikan strategi jika kondisi pasar berubah signifikan. Pemahaman mendalam tentang profil risiko pribadi juga menjadi landasan utama dalam pengambilan keputusan investasi yang bijaksana dan terukur, sesuai dengan tujuan keuangan masing-masing.
Secara keseluruhan, meskipun IHSG menunjukkan sinyal positif dengan potensi menguji resistansi 8.450 berkat dorongan kuat dari investor asing, tantangan dan risiko tetap ada. Keseimbangan antara optimisme domestik yang didorong oleh kinerja emiten dan kewaspadaan terhadap risiko global akan menjadi penentu arah pasar ke depan. Investor diharapkan untuk tidak hanya terpaku pada pergerakan harga jangka pendek yang fluktuatif, melainkan juga memperhatikan fundamental jangka panjang perusahaan dan kondisi makroekonomi secara menyeluruh. Dengan strategi investasi yang terencana dengan baik, disiplin dalam eksekusi, dan didukung oleh analisis yang mendalam, peluang untuk meraih keuntungan sekaligus memitigasi risiko di pasar saham akan tetap terbuka lebar bagi setiap pelaku pasar yang cerdas.
Referensi:
market.bisnis.com