News

Harga Emas di Banda Aceh Turun Jelang Ramadhan: Kesempatan Investasi dan Perhiasan Lebih Terjangkau

18 February 2026
10:12 WIB
Harga Emas di Banda Aceh Turun Jelang Ramadhan: Kesempatan Investasi dan Perhiasan Lebih Terjangkau
sumber gambar : asset.tribunnews.com
Harga emas di Banda Aceh kembali menunjukkan tren penurunan signifikan pada Senin (16/2/2026), memberikan angin segar bagi masyarakat menjelang bulan suci Ramadhan. Penyesuaian harga ini terjadi setelah periode fluktuasi, di mana komoditas logam mulia sempat mengalami kenaikan sebelum akhirnya terkoreksi. Penurunan ini diproyeksikan dapat memicu peningkatan minat beli dari masyarakat, baik untuk kebutuhan investasi maupun perhiasan yang akan digunakan pada hari raya. Pedagang emas lokal mencatat bahwa momentum jelang Ramadhan kerap menjadi pemicu pergerakan harga yang menarik perhatian publik. Masyarakat kini dapat mempertimbangkan kembali rencana pembelian emas dengan harga yang lebih terjangkau.

Berdasarkan pantauan di sejumlah toko emas di kawasan Pasar Aceh, harga jual emas murni per mayam kini berada di kisaran Rp 3.000.000, belum termasuk ongkos buat. Angka ini mencerminkan penurunan yang cukup terasa dibandingkan harga jual pada pekan sebelumnya yang sempat menyentuh Rp 3.150.000 per mayam. Untuk harga beli kembali (buyback) dari masyarakat juga mengalami penyesuaian, mengikuti tren harga jual di pasar. Pedagang menjelaskan bahwa 1 mayam setara dengan 3,33 gram, sehingga penurunan per mayam ini berarti penghematan yang substansial bagi pembeli yang ingin memiliki logam mulia. Fluktuasi ini memang menjadi karakteristik pasar emas yang dinamis, apalagi dengan mendekatnya momen-momen penting keagamaan.

Penurunan harga emas ini disinyalir merupakan refleksi dari pergerakan pasar emas global yang sedang mengalami koreksi. Data pasar internasional menunjukkan adanya tekanan jual yang dipicu oleh sentimen positif terhadap aset berisiko dan penguatan dolar Amerika Serikat. Selain itu, kebijakan moneter global, terutama dari bank sentral utama, serta tingkat inflasi di negara-negara besar juga turut mempengaruhi nilai komoditas ini. Menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar domestik juga bisa menjadi faktor pendukung penurunan harga emas di tingkat lokal. Para analis pasar memprediksi bahwa sentimen ini mungkin akan bertahan dalam jangka pendek, sebelum kembali menemukan titik keseimbangan baru.

Menjelang Ramadhan, permintaan emas di Aceh, khususnya Banda Aceh, cenderung mengalami peningkatan untuk berbagai keperluan. Banyak masyarakat membeli emas sebagai mahar pernikahan, hadiah lebaran, atau sekadar investasi jangka panjang yang dianggap aman dan terpercaya. Penurunan harga ini tentu menjadi kabar baik, memungkinkan lebih banyak orang untuk memenuhi kebutuhan tersebut tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu tinggi. Para pedagang berharap penurunan ini dapat mendorong transaksi pembelian yang lebih ramai di tengah persiapan menyambut bulan suci. Momentum ini selalu menjadi periode sibuk bagi sentra-sentra penjualan emas di Aceh, dengan peningkatan kunjungan dari berbagai kalangan masyarakat.

Salah seorang pemilik toko emas terkemuka di Pasar Aceh, Bapak Said Abdullah, mengungkapkan optimismenya terhadap kondisi pasar saat ini. "Penurunan harga ini adalah kesempatan emas bagi masyarakat yang ingin berinvestasi atau membeli perhiasan untuk Lebaran," ujarnya saat diwawancarai. "Biasanya, jelang Ramadhan dan Idul Fitri, permintaan memang melonjak. Dengan harga yang lebih rendah sekarang, kami berharap penjualan bisa lebih aktif dan meriah." Beliau juga menambahkan bahwa masyarakat perlu cerdas dalam memanfaatkan fluktuasi harga ini, tidak hanya tergiur saat harga turun namun juga memahami potensi kenaikan di masa mendatang. Kondisi pasar yang dinamis menuntut kejelian dari para pembeli dan investor untuk mengambil keputusan yang tepat.

Emas tetap menjadi pilihan investasi favorit bagi sebagian besar masyarakat Aceh, dianggap sebagai aset yang relatif stabil dan tahan inflasi dalam jangka panjang. Meskipun terjadi penurunan saat ini, banyak investor jangka panjang yang justru melihat ini sebagai peluang untuk mengakumulasi lebih banyak logam mulia dengan harga yang lebih kompetitif. Mereka percaya bahwa nilai emas akan kembali menguat seiring dengan potensi ketidakpastian ekonomi global dan inflasi di masa depan. Oleh karena itu, penurunan harga bukan berarti hilangnya daya tarik investasi, melainkan pergeseran strategi bagi para pemain pasar yang memiliki pandangan jangka panjang. Keputusan untuk membeli atau menahan emas sangat tergantung pada tujuan investasi masing-masing individu dan proyeksi pasar mereka.

Pergerakan harga emas di Banda Aceh memang dikenal cukup volatil, seringkali mencerminkan dinamika pasar global maupun sentimen domestik yang berubah-ubah. Dalam beberapa bulan terakhir, harga emas sempat menyentuh level tertinggi baru, sebelum akhirnya mengalami koreksi bertahap yang cukup berarti. Fluktuasi ini bukan hal baru bagi pasar komoditas, namun tetap menjadi perhatian utama bagi masyarakat dan pelaku usaha. Sejarah mencatat bahwa emas seringkali menjadi 'safe haven' saat ekonomi global dilanda ketidakpastian, namun juga dapat terpengaruh oleh faktor-faktor lain seperti kebijakan suku bunga dan kekuatan mata uang. Pemantauan harga secara rutin menjadi krusial bagi mereka yang terlibat dalam transaksi emas, baik sebagai penjual maupun pembeli.

Dengan penurunan harga emas yang terjadi jelang Ramadhan ini, masyarakat Banda Aceh memiliki kesempatan untuk memanfaatkan momen tersebut sebaik mungkin. Baik untuk tujuan konsumsi perhiasan yang akan dipakai saat Idul Fitri maupun untuk investasi jangka panjang, keputusan pembelian kini bisa diambil dengan pertimbangan yang lebih matang. Pasar emas akan terus dipantau dengan seksama, mengingat potensi pergerakan harga yang bisa terjadi kapan saja dipicu oleh berbagai faktor. Diharapkan tren penurunan ini dapat memberikan dampak positif bagi daya beli masyarakat serta geliat ekonomi lokal di tengah persiapan menyambut bulan suci yang penuh berkah.

Referensi: aceh.tribunnews.com