News

Warga Tangse Bergerak Tegas Lawan Penambangan Emas Ilegal, WALHI Aceh Beri Apresiasi

2 January 2026
16:34 WIB
Warga Tangse Bergerak Tegas Lawan Penambangan Emas Ilegal, WALHI Aceh Beri Apresiasi
sumber gambar : asset.tribunnews.com
Masyarakat di Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh, menunjukkan ketegasan mereka dalam menghadapi praktik penambangan emas ilegal yang merusak lingkungan.

Sebuah gerakan massa dilaporkan telah melakukan perburuan dan pengusiran terhadap para penambang ilegal di wilayah mereka, menandai respons kolektif yang kuat terhadap ancaman ekologis.

Langkah proaktif warga ini segera mendapat dukungan penuh dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh, yang menilai tindakan tersebut sebagai langkah tepat dan patut dicontoh.

WALHI Aceh menekankan bahwa keberanian masyarakat untuk bertindak lebih cepat daripada penegak hukum menjadi sinyal penting bagi perlindungan lingkungan.

Situasi ini menyoroti urgensi penanganan masalah penambangan ilegal yang telah lama menjadi momok di berbagai daerah.

Perburuan terhadap penambang ilegal oleh warga Tangse ini bukan hanya sekadar insiden, melainkan cerminan dari kekhawatiran mendalam masyarakat akan keberlanjutan lingkungan hidup mereka.

Praktik penambangan ilegal kerap kali menggunakan bahan kimia berbahaya seperti merkuri, yang dapat mencemari sungai dan tanah, membahayakan kesehatan manusia serta ekosistem.

Kerusakan hutan akibat pembukaan lahan dan pengerukan sungai juga memperparah risiko bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor di kemudian hari.

Oleh karena itu, tindakan tegas warga ini dianggap sebagai bentuk pertahanan diri kolektif demi menjaga sumber daya alam dan mata pencarian tradisional.

Kegiatan ini juga menjadi peringatan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan ilegal untuk menghentikan praktik destruktif mereka.

WALHI Aceh secara eksplisit menyampaikan apresiasinya terhadap respons cepat masyarakat Tangse, yang mereka anggap telah bergerak lebih efektif dibandingkan respons lambat dari pihak penegak hukum.

Direktur WALHI Aceh menyatakan bahwa tindakan warga tersebut adalah ekspresi kedaulatan rakyat dalam mempertahankan ruang hidup dan lingkungan mereka dari eksploitasi yang tidak bertanggung jawab.

Organisasi lingkungan tersebut juga melihat peristiwa ini sebagai sebuah model atau contoh yang seharusnya bisa diterapkan di daerah lain di Aceh, terutama yang juga menghadapi masalah penambangan ilegal.

Mereka berharap langkah serupa dapat memicu kesadaran kolektif dan mendesak aparat untuk lebih serius dalam menegakkan hukum lingkungan.

Masyarakat tidak bisa lagi hanya menunggu ketika lingkungan mereka terus menerus dirusak oleh aktivitas ilegal yang merugikan semua pihak.

Penambangan emas ilegal di Tangse, dan banyak wilayah lain di Aceh, telah berlangsung bertahun-tahun, meninggalkan jejak kerusakan yang mendalam dan sulit dipulihkan.

Pencemaran sungai yang menjadi sumber air minum dan irigasi pertanian adalah salah satu dampak paling langsung yang dirasakan masyarakat.

Selain itu, deforestasi di hulu sungai akibat penambangan juga mengurangi kapasitas penyerapan air tanah, sehingga meningkatkan risiko kekeringan saat kemarau dan banjir saat musim hujan.

Kerugian ekologis ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam keberlangsungan ekonomi lokal yang berbasis pertanian dan perikanan.

Komunitas lokal seringkali menjadi korban utama dari praktik-praktik ilegal ini tanpa adanya perlindungan yang memadai dari negara.

Situasi ini menyoroti tantangan besar dalam penegakan hukum terhadap praktik penambangan ilegal di Indonesia, khususnya di daerah-daerah terpencil.

Kendala geografis, terbatasnya sumber daya aparat, hingga dugaan adanya beking dari oknum-oknum tertentu, seringkali menjadi hambatan dalam memberantas aktivitas ini secara tuntas.

Undang-Undang Minerba telah jelas mengatur larangan penambangan tanpa izin, namun implementasinya di lapangan masih jauh dari kata ideal.

Peristiwa di Tangse ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi kembali strategi penegakan hukum dan perlindungan lingkungan di Aceh secara menyeluruh.

Pemerintah dan aparat keamanan diharapkan dapat merespons tindakan warga ini dengan serius, bukan hanya sebagai insiden, melainkan sebagai panggilan untuk bertindak lebih tegas dan komprehensif.

WALHI Aceh mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret, termasuk peningkatan patroli, penindakan hukum yang efektif, serta edukasi kepada masyarakat tentang bahaya penambangan ilegal.

Penting pula untuk memfasilitasi alternatif mata pencarian yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal agar tidak terjerumus pada praktik ilegal yang merusak.

Melalui sinergi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat, diharapkan masalah penambangan emas ilegal dapat diatasi demi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan generasi mendatang.

Tindakan kolektif masyarakat Tangse adalah bukti nyata bahwa kesadaran lingkungan dan keberanian untuk bertindak dapat menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan alam.

Peristiwa ini menegaskan kembali pentingnya peran aktif warga dalam mengawasi dan melindungi lingkungan mereka dari eksploitasi yang merusak.

Ini adalah panggilan keras bagi semua pihak, terutama pemerintah dan aparat penegak hukum, untuk tidak menunda lagi upaya serius dalam memberantas penambangan ilegal.

Solusi yang komprehensif dan berkelanjutan harus segera dirumuskan dan diimplementasikan untuk memastikan bahwa kekayaan alam Aceh tidak habis dirusak oleh kepentingan sesaat.

Kedaulatan atas lingkungan harus tetap berada di tangan rakyat, dengan dukungan penuh dari negara yang bertanggung jawab melindungi sumber daya alamnya.

Referensi: aceh.tribunnews.com