News

Tragedi Ledakan Tambang Ilegal di Meghalaya Renggut 18 Nyawa, Penyelidikan Serius Dimulai

10 February 2026
09:59 WIB
Tragedi Ledakan Tambang Ilegal di Meghalaya Renggut 18 Nyawa, Penyelidikan Serius Dimulai
sumber gambar : akcdn.detik.net.id
Sebuah ledakan dahsyat mengguncang sebuah tambang batu bara ilegal di distrik East Jaintia Hills, negara bagian Meghalaya, India, merenggut setidaknya 18 nyawa dan melukai delapan pekerja lainnya pada Kamis malam waktu setempat. Insiden tragis ini kembali menyoroti bahaya laten penambangan ilegal, khususnya praktik "lubang tikus" yang kerap berujung pada bencana kemanusiaan. Otoritas setempat segera melancarkan operasi penyelamatan berskala besar, meskipun kondisi medan yang sulit menjadi tantangan signifikan. Peristiwa ini memicu keprihatinan mendalam atas keselamatan para pekerja di sektor pertambangan yang tidak berlisensi. Polisi distrik telah mengonfirmasi jumlah korban sementara dan menegaskan komitmen untuk investigasi menyeluruh.

Ledakan yang terjadi sekitar pukul 21:00 waktu setempat tersebut menyebabkan runtuhnya sebagian besar struktur tambang yang rapuh, menjebak puluhan pekerja di dalamnya. Tim penyelamat, yang terdiri dari kepolisian setempat dan Badan Manajemen Bencana Negara Bagian (SDRF), bergegas ke lokasi untuk mengevakuasi korban yang terluka dan mencari jenazah yang terkubur. Delapan pekerja yang berhasil diselamatkan segera dilarikan ke fasilitas medis terdekat dengan berbagai tingkat cedera, beberapa di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis. Jumlah korban tewas diperkirakan bisa bertambah seiring berjalannya proses pencarian dan identifikasi yang rumit di area yang tidak stabil.

Praktik penambangan "lubang tikus" (rat-hole mining) telah lama menjadi momok di Meghalaya, sebuah metode berbahaya di mana penambang menggali lubang vertikal yang sangat sempit, hanya cukup untuk satu orang, untuk mencapai lapisan batu bara. Metode ini dilarang oleh Pengadilan Lingkungan Nasional (National Green Tribunal) sejak tahun 2014 karena risiko kecelakaan yang tinggi dan kerusakan lingkungan yang parah. Namun, kemiskinan dan kebutuhan ekonomi mendesak membuat praktik ilegal ini terus berlanjut, sering kali tanpa pengawasan keselamatan yang memadai dan mengabaikan standar keamanan minimal.

Pihak kepolisian distrik, yang dipimpin oleh Vikash Kumar, telah memulai penyelidikan menyeluruh untuk menentukan penyebab pasti ledakan. Dugaan awal mengarah pada penggunaan dinamit secara sembarangan untuk memecah batuan atau akumulasi gas metana yang mudah terbakar di dalam terowongan tambang yang tertutup. Tim forensik juga telah dikerahkan ke lokasi untuk mengumpulkan bukti dan membantu proses identifikasi jenazah yang sulit dikenali. Pemerintah daerah berjanji akan menindak tegas pihak-pihak yang bertanggung jawab atas operasi tambang ilegal ini demi keadilan bagi para korban.

Menteri Utama Meghalaya, Conrad K. Sangma, menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas insiden ini dan memerintahkan langkah-langkah darurat untuk membantu para korban dan keluarga mereka. Meskipun ada larangan tegas dan upaya pemerintah untuk mengatasi penambangan ilegal, penegakan hukum di daerah terpencil kerap menghadapi tantangan besar. Para pengamat menyatakan bahwa jaringan kompleks antara pengelola tambang ilegal, pejabat korup, dan kebutuhan ekonomi masyarakat lokal membuat praktik berbahaya ini sulit diberantas sepenuhnya. Regulasi yang lebih ketat dan pengawasan berkelanjutan sangat dibutuhkan.

Tragedi ini sekali lagi menyoroti dilema ekonomi di wilayah tersebut, di mana banyak penduduk lokal bergantung pada penambangan batu bara, legal maupun ilegal, sebagai mata pencarian utama mereka. Meskipun risiko yang jelas, daya tarik upah yang relatif tinggi di tambang ini seringkali mendorong individu untuk mengabaikan bahaya. Dampak sosial dari insiden semacam ini sangat menghancurkan, meninggalkan keluarga-keluarga tanpa pencari nafkah dan menambah beban kemiskinan di komunitas. Kesejahteraan jangka panjang masyarakat menjadi taruhan dalam lingkaran berbahaya ini.

Berbagai organisasi hak asasi manusia dan aktivis lingkungan telah menyerukan reformasi yang lebih ketat dalam kebijakan pertambangan dan peningkatan upaya penegakan hukum. Mereka mendesak pemerintah untuk menyediakan alternatif mata pencarian yang berkelanjutan bagi masyarakat yang bergantung pada sektor ini, sekaligus memperketat pengawasan terhadap praktik penambangan ilegal. Insiden di East Jaintia Hills ini menjadi pengingat yang menyakitkan akan urgensi untuk menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan keselamatan manusia dan perlindungan lingkungan. Solusi jangka panjang harus melibatkan semua pemangku kepentingan.

Operasi pemulihan dan identifikasi jenazah di lokasi ledakan diperkirakan akan memakan waktu, mengingat kondisi medan yang berbahaya dan sifat cedera para korban. Masyarakat berharap penyelidikan ini tidak hanya mengungkap penyebab dan pelaku, tetapi juga mendorong langkah-langkah konkret untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan. Tragedi di Meghalaya ini menjadi babak kelam lainnya dalam sejarah panjang penambangan ilegal di India, sebuah masalah yang membutuhkan solusi komprehensif dan berkelanjutan agar tidak ada lagi nyawa yang melayang sia-sia.

Referensi: news.detik.com