News

Preferensi 'Door-to-Door' dan Tantangan Parkir Hambat Adopsi Angkutan Umum di Malaysia

22 December 2025
15:53 WIB
Preferensi 'Door-to-Door' dan Tantangan Parkir Hambat Adopsi Angkutan Umum di Malaysia
sumber gambar : sinarharian.com
SHAH ALAM – Preferensi masyarakat Malaysia terhadap layanan transportasi "door-to-door" teridentifikasi sebagai penghambat utama dalam upaya meningkatkan adopsi penggunaan angkutan umum. Temuan ini diungkapkan oleh Direktur Institut Pengangkutan Malaysia Universiti Teknologi Mara (Mitrans-UiTM), Profesor Madya Dr. Wan Mazlina Wan Mohamed, dalam sebuah diskusi panel. Beliau menekankan bahwa meskipun konektivitas antara layanan kereta api dan bus terus ditingkatkan, faktor kenyamanan dan penghindaran kondisi cuaca buruk seringkali menjadi penentu pilihan masyarakat. Ketersediaan ruang parkir yang memadai juga menjadi elemen krusial yang memerlukan perhatian serius agar angkutan umum dapat menjadi pilihan utama. Diskusi ini berlangsung dalam program Meja Bulat: Diskusi Mencipta Resolusi bertajuk ‘Masalah Rel Lembah Klang: Sampai Bila Mahu Sengsara?’ yang disiarkan di platform digital Sinar Harian.

Dr. Wan Mazlina menjelaskan bahwa alasan di balik preferensi "door-to-door" ini cukup beragam, termasuk keinginan untuk menghemat waktu perjalanan serta menghindari paparan cuaca yang tidak menentu. Beliau berbagi pengalaman pribadinya saat awal bekerja, menaiki bus mini yang terasa sesak seperti 'tin sardin' jika hujan. Situasi ini diperparah oleh iklim Malaysia yang cenderung lebih agresif dibandingkan kota-kota seperti London, yang memiliki integrasi transportasi publik sangat baik dari kereta api hingga halte bus. Oleh karena itu, masyarakat Malaysia cenderung mencari opsi yang paling langsung dan minim perpindahan untuk mencapai tujuan mereka. Keengganan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara infrastruktur yang ada dan harapan kenyamanan pengguna.

Lebih lanjut, Dr. Wan Mazlina menyoroti dimensi ekonomi dan sosial yang turut mempengaruhi keputusan masyarakat. Bagi banyak keluarga, terutama ibu rumah tangga, penggunaan angkutan umum dapat menjadi komitmen yang memakan waktu dan tenaga. Misalnya, seorang ibu mungkin perlu mengantar anak-anaknya ke beberapa lokasi berbeda, seperti sekolah atau tempat les, menggunakan kereta api. Apabila cuaca hujan, perpindahan antarmoda menjadi sangat merepotkan, menciptakan "jurang" dalam efektivitas sistem. Kondisi ini membuat pilihan untuk mengemudi kendaraan pribadi, meskipun berpotensi terjebak macet, terasa lebih praktis bagi sebagian besar keluarga. Permasalahan ini menggarisbawahi bahwa solusi transportasi harus mempertimbangkan dinamika kehidupan sehari-hari masyarakat.

Selain itu, masalah ketersediaan parkir yang tidak mencukupi di stasiun-stasiun angkutan umum masih menjadi belenggu yang signifikan. Dr. Wan Mazlina menegaskan bahwa ini adalah salah satu faktor utama yang mendorong masyarakat untuk tetap menggunakan kendaraan pribadi mereka. Banyak pengguna merasa frustrasi karena harus berputar mencari tempat parkir berkali-kali tanpa hasil, bahkan seringkali terpaksa memarkirkan kendaraan di tepi jalan. Konsekuensi dari parkir ilegal ini tidak hanya berupa denda tilang, tetapi juga risiko kendaraan digembok, menambah beban biaya dan kerepotan bagi pengguna. Situasi ini secara langsung mengurangi daya tarik angkutan umum sebagai alternatif yang efisien dan bebas masalah.

Menanggapi tantangan tersebut, Dr. Wan Mazlina menyarankan agar pemerintah mencari solusi inovatif yang dapat memenuhi kebutuhan "door-to-door" masyarakat. Salah satu pendekatan yang sedang diusahakan adalah implementasi konsep "park and ride," di mana masyarakat dapat memarkirkan kendaraan mereka di lokasi tertentu dan melanjutkan perjalanan dengan layanan pengumpan (feeder) atau shuttle bus. Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan raya dan mendorong transisi ke angkutan umum setelah mencapai titik parkir yang disediakan. Program "park and ride" diharapkan dapat memberikan kenyamanan awal bagi pengguna yang masih memerlukan kendaraan pribadi untuk menjangkau stasiun atau halte. Implementasi yang efektif dan terintegrasi dari sistem ini sangat krusial untuk keberhasilannya dalam jangka panjang.

Dr. Wan Mazlina juga menyoroti bahwa Malaysia masih tertinggal dalam penyediaan aplikasi angkutan umum yang ramah pengguna dan terintegrasi. Saat ini, masyarakat seringkali terpaksa menggunakan setidaknya dua hingga tiga aplikasi berbeda untuk merencanakan rute perjalanan. Hal ini termasuk mencari rute paling mudah, jenis angkutan yang tersedia, serta membandingkan biaya tarif yang paling murah untuk mencapai tujuan akhir mereka. Kurangnya integrasi aplikasi menciptakan pengalaman yang rumit dan kurang efisien bagi pengguna, berpotensi mengurangi minat mereka untuk beralih ke angkutan umum. Pengembangan satu aplikasi terpadu yang dapat menyediakan semua informasi ini secara komprehensif akan sangat membantu meningkatkan pengalaman pengguna dan mendorong adopsi.

Secara keseluruhan, tantangan dalam meningkatkan penggunaan angkutan umum di Malaysia bukan hanya soal ketersediaan infrastruktur fisik semata, melainkan juga tentang memahami dan memenuhi preferensi pengguna. Pemerintah didorong untuk mencari solusi holistik yang dapat melayani semua golongan masyarakat, mulai dari B40, M40, hingga T20, agar mereka semua dapat menikmati layanan transportasi publik berkualitas tinggi. Integrasi yang lebih baik antara berbagai moda transportasi, penyediaan fasilitas parkir yang memadai, dan pengembangan teknologi aplikasi yang lebih intuitif adalah langkah-langkah penting ke depan. Dengan mengatasi preferensi "door-to-door" dan hambatan lainnya secara komprehensif, Malaysia dapat mewujudkan sistem angkutan umum yang lebih efisien, nyaman, dan berkelanjutan bagi seluruh warganya.

Referensi: www.sinarharian.com.my