News

Pesan Natal Kardinal Suharyo: Desak Keadilan Ekologi di Tengah Kerusakan Hutan Global

29 December 2025
13:27 WIB
Pesan Natal Kardinal Suharyo: Desak Keadilan Ekologi di Tengah Kerusakan Hutan Global
sumber gambar : media.suara.com
Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, Uskup Agung Jakarta, menyampaikan seruan moral yang mendalam mengenai isu kerusakan hutan global saat perayaan Natal pada 25 Desember 2025. Dalam khotbahnya, Kardinal Suharyo menyoroti ketidakadilan ekologi yang mencolok, di mana negara-negara kaya dan industri besar menjadi pelaku utama perusakan alam. Beliau menegaskan bahwa dampak buruk dari eksploitasi lingkungan ini secara tidak proporsional ditanggung oleh masyarakat miskin dan rentan. Pesan ini menggemakan keprihatinan serius Gereja Katolik terhadap krisis lingkungan dan keadilan sosial. Suara beliau menjadi pengingat akan tanggung jawab kolektif terhadap kelestarian bumi.

Pernyataan Kardinal Suharyo secara langsung menyentuh akar permasalahan kerusakan hutan yang sering kali didorong oleh konsumsi berlebihan di negara-negara maju. Permintaan pasar global akan komoditas seperti kelapa sawit, kertas, daging, dan mineral telah mendorong ekspansi industri ekstraktif dan agribisnis skala besar. Proses ini seringkali mengabaikan prinsip keberlanjutan dan hak-hak masyarakat adat yang mendiami wilayah hutan tersebut. Akibatnya, hutan-hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia terus menyusut dengan kecepatan mengkhawatirkan. Eksploitasi sumber daya alam ini kerap terjadi tanpa pengawasan ketat dan penegakan hukum yang memadai.

Sementara itu, masyarakat yang paling terdampak dari kerusakan lingkungan ini adalah mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca atau deforestasi. Komunitas adat dan petani kecil kehilangan lahan mata pencarian tradisional mereka akibat perambahan hutan dan konversi lahan. Mereka juga menjadi korban langsung dari bencana ekologi seperti banjir bandang, tanah longsor, kekeringan berkepanjangan, dan pencemaran udara serta air. Kondisi ini memperparah kemiskinan dan menciptakan siklus kerentanan yang sulit diputuskan. Tanggungan beban ekologis ini menunjukkan adanya ketidakadilan struktural yang harus segera diatasi.

Menyampaikan pesan ini di momen Natal bukanlah kebetulan semata, melainkan refleksi dari inti ajaran Kristiani tentang kasih, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama serta ciptaan. Kardinal Suharyo mengingatkan umatnya bahwa merawat bumi adalah bagian integral dari iman dan moralitas. Dokumen ensiklik “Laudato Si'” Paus Fransiskus juga secara jelas menyerukan “ekologi integral” yang menghubungkan isu lingkungan dengan keadilan sosial. Oleh karena itu, perayaan kelahiran Kristus menjadi momentum untuk merefleksikan kembali komitmen kita dalam menjaga keutuhan ciptaan Tuhan.

Kardinal Suharyo mendesak semua pihak, termasuk pemerintah, korporasi, dan masyarakat sipil, untuk bersatu padu mencari solusi berkelanjutan. Diperlukan kebijakan yang lebih kuat untuk melindungi hutan, menegakkan hukum lingkungan, dan memastikan keadilan bagi komunitas terdampak. Konsumen di negara-negara maju juga memiliki tanggung jawab untuk lebih sadar akan jejak ekologis produk yang mereka konsumsi. Pendidikan dan peningkatan kesadaran tentang pentingnya konservasi hutan juga menjadi kunci untuk perubahan perilaku jangka panjang. Kolaborasi lintas sektor dan batas negara menjadi krusial untuk mengatasi masalah yang kompleks ini.

Melalui seruannya, Kardinal Suharyo tidak hanya mengangkat masalah lingkungan, tetapi juga menegaskan kembali dimensi spiritual dan etis dari krisis ekologi. Beliau mengingatkan bahwa bumi adalah rumah kita bersama, dan kerusakannya akan berdampak pada seluruh umat manusia, terutama yang paling rentan. Pesan Natal ini berfungsi sebagai ajakan serius untuk merenungkan kembali nilai-nilai keadilan, keberlanjutan, dan solidaritas. Hanya dengan tindakan nyata dan komitmen kolektif, harapan akan masa depan yang lebih hijau dan adil dapat terwujud bagi generasi mendatang.

Referensi: www.suara.com