News

Pembekuan IUP PT SSC Picu Gelombang PHK di Kotabaru, Ribuan Karyawan Terancam Kehilangan Mata Pencarian

3 March 2026
13:42 WIB
Pembekuan IUP PT SSC Picu Gelombang PHK di Kotabaru, Ribuan Karyawan Terancam Kehilangan Mata Pencarian
sumber gambar : asset.tribunnews.com
Dampak pembekuan Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Sebuku Sejaka Coal (SSC) di Desa Bekambit Asri, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, kini mulai dirasakan secara masif oleh masyarakat lokal.
Ratusan hingga ribuan karyawan yang sebelumnya menggantungkan hidup pada operasional perusahaan tambang tersebut kini harus menghadapi kenyataan pahit.
Mereka ramai-ramai mengeluhkan hilangnya pekerjaan dan sumber pendapatan utama, memicu kekhawatiran mendalam akan masa depan ekonomi keluarga.
Situasi ini menimbulkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang tak terhindarkan, membuat roda perekonomian di Bekambit Asri berputar melambat.
Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan segera mencari solusi guna meredam krisis sosial yang berpotensi meluas.

Para pekerja tambang yang terdampak, sebagian besar adalah kepala keluarga, kini berada dalam kondisi sangat sulit.
Penghasilan bulanan yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian rumah tangga mereka tiba-tiba terhenti total.
Banyak di antara mereka telah bekerja selama bertahun-tahun, mengandalkan gaji dari PT SSC untuk kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, hingga angsuran kredit rumah atau kendaraan.
Kecemasan akan kemampuan membayar kebutuhan pokok, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, menjadi momok.
Mereka mendesak adanya kejelasan mengenai status IUP PT SSC serta langkah-langkah konkret dari pihak berwenang untuk mengatasi permasalahan ini secepatnya.

Pembekuan IUP merupakan tindakan administratif yang memiliki konsekuensi serius terhadap operasional perusahaan pertambangan.
Keputusan ini biasanya diambil setelah melalui serangkaian evaluasi terhadap kepatuhan perusahaan terhadap regulasi yang berlaku, baik dari sisi teknis, lingkungan, maupun administratif.
Meskipun alasan pasti pembekuan IUP PT SSC belum dirinci secara publik, dampaknya langsung menghantam sektor tenaga kerja lokal yang sangat bergantung pada industri ini.
Perusahaan diwajibkan untuk memenuhi semua persyaratan yang ditentukan sebelum izin operasinya dapat dipulihkan sepenuhnya.
Proses ini seringkali memakan waktu dan berdampak langsung pada kelangsungan usaha serta nasib karyawannya.

Beberapa karyawan yang ditemui di sekitar Bekambit Asri mengungkapkan rasa putus asa mereka.
Mereka berbagi cerita tentang bagaimana pekerjaan di tambang adalah satu-satunya sumber pendapatan stabil yang mereka miliki di wilayah tersebut.
Dengan minimnya lapangan pekerjaan alternatif yang tersedia di desa maupun kota terdekat, banyak dari mereka yang merasa kehilangan arah dan tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya.
Sebagian besar pekerja merupakan tenaga non-skill atau semi-skill yang akan kesulitan bersaing di sektor lain tanpa pelatihan khusus.
Mereka berharap ada intervensi dari pemerintah daerah untuk memfasilitasi dialog atau memberikan bantuan sosial sementara.

Situasi ini tidak hanya memengaruhi para karyawan PT SSC, tetapi juga menciptakan efek domino pada ekonomi lokal Bekambit Asri secara keseluruhan.
Warung makan, toko kelontong, jasa transportasi, hingga usaha kecil lainnya yang bergantung pada daya beli para pekerja tambang kini ikut merasakan dampaknya.
Omzet penjualan mereka menurun drastis seiring hilangnya pendapatan utama dari sebagian besar pelanggan.
Kondisi ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi desa dan bahkan memicu krisis sosial jika tidak segera ditangani secara komprehensif.
Pemerintah daerah perlu mengidentifikasi sektor-sektor lain yang bisa dikembangkan sebagai alternatif.

Sementara itu, pihak manajemen PT Sebuku Sejaka Coal (SSC) diyakini sedang berupaya keras untuk menyelesaikan persoalan terkait pembekuan IUP ini.
Mereka kemungkinan besar tengah berkoordinasi intensif dengan kementerian terkait dan pemerintah daerah untuk memenuhi semua persyaratan yang dibutuhkan.
Proses ini tentu bukan perkara mudah dan memerlukan waktu serta sumber daya yang besar.
Namun, tekanan dari para karyawan yang kehilangan pekerjaan dan sorotan publik terhadap dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan, menuntut respons yang cepat dan transparan dari perusahaan.
Komunikasi yang jelas kepada karyawan dan masyarakat menjadi sangat krusial dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini.

Pemerintah Kabupaten Kotabaru, melalui dinas terkait, diharapkan tidak tinggal diam dalam menghadapi krisis ini.
Langkah-langkah mitigasi berupa bantuan sosial darurat atau program pelatihan kerja untuk mengalihkan keterampilan karyawan menjadi sangat penting.
Pemerintah juga bisa memfasilitasi pertemuan antara perusahaan, perwakilan pekerja, dan instansi terkait untuk mencari jalan keluar terbaik.
Peran aktif pemerintah sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa hak-hak pekerja yang di-PHK tetap terpenuhi sesuai ketentuan undang-undang.
Penyusunan strategi jangka panjang untuk diversifikasi ekonomi daerah juga harus menjadi prioritas agar tidak terlalu bergantung pada satu sektor industri.

Ketidakpastian mengenai kapan IUP PT SSC akan aktif kembali menambah beban pikiran bagi ribuan keluarga.
Jika pembekuan ini berlarut-larut, dampak kerugian ekonomi dan sosial di Bekambit Asri akan semakin parah dan sulit dipulihkan.
Kesejahteraan masyarakat dan stabilitas regional menjadi taruhan utama dalam kondisi ini.
Perlunya transparansi dan komunikasi yang efektif dari semua pihak terkait akan membantu meredakan spekulasi dan memberikan harapan bagi para pekerja.
Semua mata kini tertuju pada keputusan selanjutnya yang akan menentukan nasib ribuan jiwa.

Dengan demikian, pembekuan IUP PT SSC telah menempatkan ribuan karyawan tambang di Bekambit Asri pada posisi yang sangat rentan.
Keluhan mereka akan hilangnya pekerjaan dan sumber pendapatan adalah cerminan dari krisis sosial-ekonomi yang mendesak.
Pemerintah, perusahaan, dan seluruh elemen masyarakat harus bersinergi untuk menemukan solusi yang adil dan berkelanjutan.
Masa depan pekerja dan stabilitas ekonomi lokal sangat bergantung pada respons cepat dan kebijakan yang bijaksana.
Memastikan kelangsungan hidup warga adalah prioritas utama dalam menghadapi tantangan yang kompleks ini.

Referensi: banjarmasin.tribunnews.com