News

PBNU Desak Percepatan Muktamar ke-35: Konsolidasi Strategis di Lirboyo

29 December 2025
13:27 WIB
PBNU Desak Percepatan Muktamar ke-35: Konsolidasi Strategis di Lirboyo
sumber gambar : rmol.id
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara tegas memutuskan untuk segera menggelar Muktamar ke-35 sebagai langkah strategis dalam konsolidasi organisasi. Keputusan penting ini dihasilkan dari Rapat Konsultasi Syuriyah PBNU bersama para Mustasyar, yang berlangsung khidmat di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Pertemuan pada Kamis, 25 Desember 2025, tersebut menekankan urgensi pelaksanaan forum tertinggi Nahdlatul Ulama dalam waktu secepat-cepatnya. Hasil rapat mengamanatkan Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, dan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, untuk segera mempersiapkan dan melaksanakan Muktamar tersebut. Langkah ini dipandang krusial untuk menjaga dinamika dan keberlangsungan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini.

Penekanan pada frasa "secepatnya" mengindikasikan adanya dorongan kuat dari internal PBNU untuk mempercepat proses pengambilan keputusan dan regenerasi kepemimpinan. Rapat konsultasi yang melibatkan Syuriyah dan Mustasyar PBNU merupakan forum tertinggi yang mencerminkan kebijaksanaan spiritual dan organisasional. Kehadiran para kiai sepuh dan cendekiawan NU di Pondok Pesantren Lirboyo menambah bobot moral dan legitimasi terhadap keputusan yang diambil. Mereka melihat pentingnya kesinambungan program kerja dan adaptasi organisasi terhadap tantangan zaman. Oleh karena itu, mandat untuk Rais Aam dan Ketua Umum PBNU bukan sekadar instruksi, melainkan amanah besar dari seluruh lapisan pimpinan NU.

Pemilihan Pondok Pesantren Lirboyo sebagai lokasi rapat konsultasi bukan tanpa alasan, mengingat pesantren ini adalah salah satu institusi pendidikan Islam tertua dan paling dihormati di Nusantara. Lirboyo telah lama menjadi simpul penting dalam sejarah perjuangan Nahdlatul Ulama dan pusat penggemblengan ulama-ulama terkemuka. Kehadiran para pimpinan puncak NU di Kediri menciptakan suasana yang sarat spiritualitas dan kekeluargaan, jauh dari hiruk pikuk politik praktis. Hal ini diharapkan mampu menghasilkan keputusan yang murni demi kemaslahatan umat dan organisasi. Suasana tersebut juga memperkuat nilai-nilai tradisi dan kebersamaan yang menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama.

Amanat pelaksanaan Muktamar yang diberikan kepada Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan sinergi kepemimpinan di tubuh NU. KH Miftachul Akhyar, sebagai Rais Aam, memegang otoritas spiritual tertinggi yang memberikan arah dan kebijakan syar'iyah bagi organisasi. Sementara itu, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, sebagai Ketua Umum, bertanggung jawab atas pelaksanaan harian dan manajerial PBNU. Kolaborasi kedua figur sentral ini menjadi kunci utama untuk menjamin Muktamar berjalan lancar dan menghasilkan keputusan yang berlandaskan spiritualitas serta relevan dengan dinamika sosial. Kemitraan strategis ini diharapkan mampu mengakomodasi berbagai pandangan demi kemajuan organisasi.

Muktamar adalah forum permusyawaratan tertinggi Nahdlatul Ulama yang memiliki wewenang untuk memilih kepengurusan baru, menetapkan Garis Besar Haluan Organisasi, serta merumuskan sikap NU terhadap isu-isu kebangsaan dan keumatan. Percepatan pelaksanaan Muktamar ini kemungkinan besar didorong oleh kebutuhan untuk merespons dinamika internal maupun eksternal yang berkembang pesat. Diperkirakan, beberapa agenda penting seperti penguatan kaderisasi, adaptasi terhadap perkembangan teknologi, dan peran NU dalam menghadapi polarisasi sosial akan menjadi topik hangat. Konsolidasi internal juga menjadi prioritas guna memastikan soliditas organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan. Kesigapan NU dalam menggelar Muktamar menunjukkan komitmennya terhadap proses demokrasi internal yang sehat.

Keputusan PBNU untuk segera menyelenggarakan Muktamar ke-35 ini diharapkan dapat membawa angin segar bagi organisasi dan seluruh warga Nahdliyin. Langkah proaktif ini menegaskan komitmen PBNU dalam menjalankan roda organisasi secara transparan dan akuntabel. Dengan digelarnya Muktamar secepatnya, NU berkesempatan untuk mengukuhkan kembali posisinya sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan dan kerukunan umat beragama. Hasil-hasil Muktamar nantinya akan sangat dinantikan, tidak hanya oleh internal NU tetapi juga oleh masyarakat luas yang selalu memandang NU sebagai salah satu pilar penting bangsa. Ini adalah manifestasi dari semangat perubahan dan adaptasi yang selalu dipegang teguh oleh Nahdlatul Ulama demi kemajuan bersama.

Referensi: rmol.id