News

Badan Geologi Naikkan Status Dua Gunung Api: Lewotobi Awas, Burni Telong Waspada

28 November 2025
10:14 WIB
Badan Geologi Naikkan Status Dua Gunung Api: Lewotobi Awas, Burni Telong Waspada
sumber gambar : statik.tempo.co
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah meningkatkan status aktivitas vulkanik untuk dua gunung api di Indonesia, yaitu Gunung Burni Telong di Aceh dan Gunung Lewotobi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Peningkatan status ini berlaku efektif pada tanggal 25 November 2025, menyusul peningkatan signifikan pada aktivitas seismik dan deformasi kedua gunung tersebut. Gunung Burni Telong kini berada pada Status Waspada (Level II), sementara Gunung Lewotobi telah dinaikkan ke Status Awas (Level IV), yang merupakan level tertinggi dalam sistem peringatan dini gunung api. Keputusan ini diambil setelah serangkaian evaluasi mendalam terhadap data pemantauan yang terus-menerus dilakukan oleh petugas di lapangan. Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat dan pemerintah daerah setempat untuk mengantisipasi potensi bahaya yang mungkin terjadi.

Penetapan Status Awas (Level IV) untuk Gunung Lewotobi di Kabupaten Flores Timur, NTT, mengindikasikan bahwa gunung tersebut berada dalam fase kritis dan memiliki potensi tinggi untuk meletus dalam waktu dekat. PVMBG telah mengidentifikasi peningkatan drastis dalam gempa vulkanik, deformasi tanah yang signifikan, serta emisi gas yang tidak biasa dari kawah puncak gunung. Bahaya yang mengancam dapat berupa aliran piroklastik, guguran lava pijar, hujan abu lebat, dan lontaran material vulkanik yang dapat menjangkau radius beberapa kilometer dari pusat erupsi. Oleh karena itu, masyarakat yang bermukim di sekitar lereng gunung, khususnya dalam radius bahaya yang ditetapkan, diimbau untuk segera mengungsi dan mengikuti arahan dari pihak berwenang guna keselamatan jiwa.

Sementara itu, peningkatan Status Waspada (Level II) pada Gunung Burni Telong di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, menunjukkan adanya peningkatan aktivitas di atas normal, meskipun belum pada tingkat krisis. Aktivitas seismik, seperti gempa vulkanik dangkal dan gempa tektonik lokal, tercatat mengalami peningkatan frekuensi dan intensitas dalam beberapa waktu terakhir. Selain itu, pengamatan visual menunjukkan adanya peningkatan hembusan gas dan perubahan suhu di sekitar kawah. Kondisi ini memerlukan pemantauan yang lebih intensif dari petugas dan kesiapsiagaan dari masyarakat di sekitarnya. Pemerintah daerah setempat juga diharapkan untuk meningkatkan koordinasi dalam menghadapi kemungkinan peningkatan aktivitas lebih lanjut.

Kepala Badan Geologi, Sugeng Mujiyanto, dalam keterangannya, menjelaskan bahwa kenaikan status ini didasarkan pada analisis data instrumental dan visual yang komprehensif dari pos pengamatan masing-masing gunung. Peningkatan jumlah gempa vulkanik dalam dan dangkal menjadi indikator utama adanya pergerakan magma menuju permukaan. Perubahan pola deformasi tanah yang terdeteksi melalui GPS dan tiltmeter juga mengonfirmasi adanya tekanan dari dalam tubuh gunung. Data-data ini diolah dan dievaluasi secara berkala oleh tim ahli geologi untuk memastikan akurasi keputusan yang diambil demi mitigasi risiko bencana.

Pemerintah Provinsi NTT, khususnya Pemerintah Kabupaten Flores Timur, diminta untuk segera mengaktifkan rencana kontingensi bencana dan mempersiapkan jalur serta lokasi evakuasi bagi penduduk yang terdampak oleh aktivitas Gunung Lewotobi. Tim SAR dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah disiagakan penuh untuk merespons situasi darurat, termasuk penyediaan logistik dan tempat penampungan sementara. Langkah-langkah proaktif ini sangat krusial untuk meminimalkan dampak dan kerugian yang diakibatkan oleh potensi erupsi. Koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menjamin keselamatan masyarakat.

Di Aceh, masyarakat yang beraktivitas di sekitar Gunung Burni Telong diimbau untuk tidak mendekati kawah dalam radius yang telah ditentukan oleh PVMBG, yaitu sekitar 1-2 kilometer. Sektor pariwisata dan pendakian ke puncak gunung juga untuk sementara waktu ditutup demi menghindari risiko yang tidak diinginkan. Sosialisasi mengenai tanda-tanda bahaya dan langkah-langkah mitigasi terus digencarkan oleh BPBD dan aparat desa setempat. Seluruh pihak diminta untuk tetap tenang namun waspada, serta selalu mengacu pada informasi resmi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi atau pemerintah daerah.

PVMBG secara konsisten akan terus memantau aktivitas kedua gunung api ini selama 24 jam non-stop dengan dukungan teknologi modern. Seluruh data yang terekam akan dianalisis secara real-time untuk memberikan pembaruan status dan rekomendasi kepada pihak terkait serta masyarakat luas. Tim tanggap darurat juga telah disiapkan untuk diterjunkan ke lokasi jika sewaktu-waktu diperlukan. Keselamatan jiwa masyarakat adalah prioritas utama dalam setiap kebijakan mitigasi bencana yang diterapkan.

Dengan adanya peningkatan status ini, diharapkan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah dapat bekerja sama secara sinergis dalam menghadapi potensi ancaman bencana. Kesiapsiagaan, pemahaman akan risiko, dan kepatuhan terhadap instruksi dari pihak berwenang akan menjadi kunci keberhasilan dalam upaya mitigasi. Informasi terkini mengenai perkembangan aktivitas gunung api dapat diakses melalui situs web resmi PVMBG dan media sosial resmi lembaga tersebut, serta melalui informasi dari pemerintah daerah setempat. Mari bersama-sama tingkatkan kewaspadaan demi keselamatan dan keamanan bersama.

Referensi: tekno.tempo.co