Tambang Liar Ancam Lingkungan Kaki Gunung Slamet di Banyumas, Kerusakan Meluas
13 January 2026
13:17 WIB
img.antaranews.com
Aktivitas penambangan di wilayah kaki Gunung Slamet, tepatnya di Desa Gandatapa, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dilaporkan telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang serius. Praktik eksploitasi sumber daya alam ini dikhawatirkan mengancam keberlanjutan ekosistem vital di salah satu gunung tertinggi di Jawa tersebut. Laporan dari JPNN.com pada tanggal 11 Januari 2026 menyoroti dampak negatif yang semakin meluas akibat kegiatan tambang ini. Kerusakan tersebut berpotensi menimbulkan konsekuensi jangka panjang bagi lingkungan alam maupun masyarakat sekitar. Pemerintah daerah dan instansi terkait didesak untuk segera mengambil tindakan tegas guna menghentikan degradasi ekosistem yang terjadi.
Desa Gandatapa, yang terletak strategis di lereng bawah Gunung Slamet, menjadi lokasi utama dari aktivitas penambangan yang merusak ini. Meskipun jenis penambangan spesifik tidak dirinci dalam sumber awal, indikasi kerusakan lingkungan menunjukkan adanya kegiatan penambangan material seperti pasir dan batu yang dilakukan secara masif. Operasi ini seringkali melibatkan pembukaan lahan hutan dan penggalian material dalam skala besar. Kondisi ini secara langsung mengubah bentang alam dan memicu berbagai masalah ekologi di area tersebut. Keberadaan tambang-tambang ini telah menjadi perhatian serius bagi pegiat lingkungan dan warga lokal.
Dampak kerusakan lingkungan yang paling nyata terlihat adalah erosi tanah yang parah dan deforestasi di area sekitar tambang. Pembukaan lahan untuk akses dan lokasi penambangan telah menghilangkan vegetasi penutup tanah, membuat tanah rentan terhadap longsor dan pengikisan saat hujan lebat. Selain itu, aktivitas ini juga berpotensi mencemari sumber air bersih yang mengalir dari Gunung Slamet, yang merupakan pasokan vital bagi masyarakat di bawahnya. Perubahan hidrologi dan sedimentasi sungai juga menjadi ancaman serius bagi kelestarian flora dan fauna endemik. Hilangnya habitat alami menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.
Masyarakat Desa Gandatapa dan sekitarnya adalah pihak yang paling merasakan langsung dampak dari kerusakan lingkungan ini. Petani lokal menghadapi ancaman lahan pertanian yang rusak akibat erosi atau pencemaran air irigasi. Ketersediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari juga terancam, yang pada gilirannya dapat memicu masalah kesehatan dan sosial. Peningkatan risiko bencana seperti banjir bandang dan tanah longsor menjadi momok yang menghantui penduduk yang tinggal di dekat area penambangan. Mereka khawatir akan masa depan anak cucu yang harus hidup dengan lingkungan yang sudah terdegradasi.
Gunung Slamet tidak hanya dikenal sebagai salah satu ikon Jawa Tengah, tetapi juga berperan penting sebagai daerah tangkapan air (catchment area) utama bagi banyak wilayah di sekitarnya. Keberadaan hutan primer dan sekunder di lerengnya berfungsi sebagai penyimpan cadangan air tanah dan penjaga siklus hidrologi. Kerusakan ekosistem di kaki gunung ini secara langsung akan mengganggu fungsi vital tersebut, berpotensi menyebabkan kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim hujan di daerah hilir. Melindungi Gunung Slamet berarti melindungi sumber kehidupan bagi jutaan orang.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas pengawasan dan penegakan hukum terhadap praktik penambangan yang merusak. Diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap perizinan yang dikeluarkan, jika ada, serta pengawasan rutin yang ketat dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Praktik penambangan yang tidak sesuai prosedur atau bahkan ilegal harus ditindak tegas untuk memberikan efek jera. Keterlibatan masyarakat dalam pengawasan juga perlu ditingkatkan agar setiap pelanggaran dapat segera dilaporkan dan ditindaklanjuti secara transparan dan akuntabel.
Oleh karena itu, tindakan cepat dan terkoordinasi dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk menghentikan kerusakan lebih lanjut di kaki Gunung Slamet. Pemerintah Kabupaten Banyumas, bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, harus berkolaborasi dalam merumuskan solusi jangka panjang yang berkelanjutan. Upaya rehabilitasi lahan yang rusak, penanaman kembali vegetasi, serta sosialisasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan harus menjadi prioritas. Melindungi alam Gunung Slamet adalah investasi penting demi masa depan generasi yang akan datang dan keberlanjutan lingkungan hidup secara keseluruhan.