News

Ruben Amorim Dipecat, Manchester United Kembali di Persimpangan Jalan Menuju Stabilitas Manajerial

7 January 2026
14:24 WIB
Ruben Amorim Dipecat, Manchester United Kembali di Persimpangan Jalan Menuju Stabilitas Manajerial
sumber gambar : foto.kontan.co.id
Manchester United kembali mengejutkan jagat sepak bola dengan pengumuman pemecatan Ruben Amorim dari kursi manajer pada Senin, 5 Januari 2026. Keputusan ini datang setelah serangkaian hasil mengecewakan yang jauh dari ekspektasi tinggi yang menyertai kedatangannya ke Old Trafford. Laporan menunjukkan bahwa Amorim hanya berhasil mencatatkan persentase kemenangan sebesar 38,1% selama masa jabatannya, angka terburuk bagi seorang manajer di era Premier League bagi klub tersebut. Situasi ini secara tidak terelakkan kembali menempatkan raksasa Inggris itu dalam siklus pencarian manajer baru yang tak ada habisnya, memicu kekhawatiran tentang arah klub di masa depan.

Kedatangan Ruben Amorim ke Manchester United sebelumnya disambut dengan optimisme besar, menyusul rekam jejaknya yang gemilang bersama Sporting CP. Di Portugal, ia berhasil membawa timnya meraih gelar liga dan beberapa trofi domestik lainnya, membangun reputasi sebagai pelatih muda yang inovatif dan strategis. Para penggemar berharap ia dapat mereplikasi formula sukses tersebut di Liga Primer Inggris, mengakhiri paceklik gelar yang telah lama melanda United. Sayangnya, adaptasi Amorim di Premier League dan kemampuannya untuk menginspirasi para pemain bintang United tampaknya tidak berjalan sesuai rencana, menyebabkan performa tim yang inkonsisten dan jauh di bawah standar.

Analisis mendalam terhadap kinerja tim di bawah Amorim menunjukkan berbagai permasalahan krusial yang gagal diatasi. Tingkat kemenangan 38,1% bukan hanya sekadar statistik, melainkan cerminan dari kurangnya identitas permainan, pertahanan yang rapuh, dan serangan yang tumpul. Banyak pihak menyoroti ketidakmampuan tim untuk menunjukkan dominasi, bahkan saat menghadapi lawan yang di atas kertas lebih lemah. Para pemain kunci terlihat kesulitan menemukan performa terbaik mereka, dan rotasi skuad yang kerap dilakukan Amorim justru menciptakan ketidakstabilan alih-alih kedalaman tim. Tekanan media dan sorotan publik yang intens di Manchester United memang tak pernah mudah untuk ditangani oleh manajer mana pun.

Keputusan untuk melepas Amorim menunjukkan bahwa manajemen Manchester United, termasuk sosok seperti Darren Fletcher yang terlibat dalam struktur sepak bola klub, merasa perubahan drastis harus dilakukan. Tekanan dari basis penggemar yang haus akan kesuksesan dan kritik tajam dari para pundit sepak bola tak diragukan lagi turut andil dalam percepatan keputusan ini. Stabilitas klub secara keseluruhan mulai dipertanyakan, terutama dengan investasi besar-besaran yang telah dikeluarkan untuk merekrut pemain-pemain berkualitas. Klub raksasa ini memiliki ambisi besar untuk bersaing di puncak Liga Primer dan kompetisi Eropa, namun kinerja di lapangan seringkali tidak mencerminkan investasi tersebut.

Kini, Manchester United kembali menghadapi dilema klasik: mencari sosok yang tepat untuk menakhodai kapal raksasa ini. Sejak pensiunnya Sir Alex Ferguson, klub telah melalui serangkaian manajer, mulai dari David Moyes, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Ralf Rangnick, hingga Erik ten Hag, yang semuanya berakhir dengan pemecatan. Pola ini menunjukkan adanya masalah yang lebih dalam dari sekadar kualitas individu manajer, mungkin berkaitan dengan struktur klub, budaya, atau harapan yang tidak realistis. Setiap pergantian manajer selalu membawa harapan baru, namun seringkali berakhir dengan kekecewaan dan pertanyaan yang sama tentang arah klub.

Perjalanan Manchester United untuk menemukan kembali kejayaan mereka tampaknya akan terus berliku dan penuh tantangan. Dengan bursa transfer musim dingin yang akan segera dibuka, manajer baru akan dihadapkan pada tugas berat untuk segera mengevaluasi skuad dan merumuskan strategi yang efektif. Lebih dari sekadar hasil instan, klub membutuhkan visi jangka panjang dan stabilitas kepemimpinan untuk membangun fondasi yang kokoh. Keputusan selanjutnya dalam menunjuk manajer baru akan sangat krusial, menentukan apakah Manchester United akan mampu keluar dari siklus ketidakpastian ini atau terus terperosok dalam bayang-bayang masa lalu yang gemilang.

Referensi: internasional.kontan.co.id