News

Puncak Musim Hujan Diprediksi Tingkatkan Guguran Material Merapi, Masyarakat Diminta Waspada

28 November 2025
15:18 WIB
Puncak Musim Hujan Diprediksi Tingkatkan Guguran Material Merapi, Masyarakat Diminta Waspada
sumber gambar: mediaindonesia.gumlet.io
Pelaksana Tugas Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengingatkan masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Merapi untuk meningkatkan kewaspadaan menjelang puncak musim hujan. Ia memprediksi bahwa intensitas guguran material dari puncak Merapi akan mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa bulan ke depan. Fenomena ini diperkirakan terjadi sepanjang bulan November dan Desember 2025, dengan puncaknya pada Januari dan Februari 2026. Peningkatan aktivitas guguran ini disebut sebagai respons alami gunung terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang sedang berlangsung. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks pengelolaan lingkungan yang harmonis dengan potensi bencana alam, terutama di wilayah rawan seperti lereng Merapi.

Peningkatan intensitas guguran material, baik berupa batuan pijar maupun lava, memang merupakan karakteristik umum aktivitas Merapi saat musim penghujan tiba. Curah hujan yang tinggi dapat mempercepat pelapukan batuan di kubah lava, serta meningkatkan tekanan hidrostatik di dalam tubuh gunung. Kondisi ini berpotensi memicu keruntuhan material yang lebih sering, terutama pada kubah lava yang tidak stabil akibat akumulasi material baru. Para ahli vulkanologi seringkali mengamati korelasi langsung antara intensitas hujan dan frekuensi guguran di gunung berapi aktif yang memiliki kubah lava. Oleh karena itu, pengamatan terhadap pola cuaca menjadi krusial dalam memprediksi aktivitas Merapi dan mengambil langkah mitigasi yang tepat.

Menteri Raja Juli Antoni menekankan pentingnya filosofi hidup harmonis dengan ekosistem, termasuk dalam menghadapi ancaman bencana alam seperti erupsi Merapi. Menurutnya, pemahaman yang mendalam tentang karakteristik gunung dan siklus alam akan membantu masyarakat beradaptasi dan mengurangi risiko secara efektif. Kesadaran ekologis ini tidak hanya mencakup upaya mitigasi bencana, tetapi juga pelestarian lingkungan sekitar yang mendukung kehidupan dan keberlanjutan ekosistem. Ia menggarisbawahi bahwa hidup berdampingan dengan alam berarti memahami serta menghargai setiap dinamika yang terjadi, termasuk potensi bahaya. Konsep ini menjadi landasan bagi strategi pengelolaan risiko bencana yang berkelanjutan dan berbasis komunitas.

Masyarakat di lereng Merapi, khususnya yang berada dalam radius bahaya, diimbau untuk selalu mengikuti informasi terbaru dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta pemerintah daerah. Kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi peningkatan aktivitas Merapi, meskipun intensitas guguran tidak selalu mengindikasikan erupsi besar akan segera terjadi. Peningkatan intensitas guguran material ini bukan berarti ancaman erupsi besar akan segera terjadi, namun tetap memerlukan kewaspadaan tinggi dan kesiapan evakuasi jika diperlukan. Latihan evakuasi mandiri dan pemahaman jalur aman evakuasi perlu terus diasah oleh warga setempat secara berkala. Edukasi mengenai mitigasi bencana juga harus terus digalakkan agar masyarakat memiliki respons yang cepat dan tepat dalam setiap situasi.

PVMBG, sebagai lembaga yang berwenang dalam pemantauan gunung api di Indonesia, terus melakukan observasi intensif terhadap Gunung Merapi tanpa henti. Data seismik, deformasi tanah, dan pengamatan visual dari puncak Merapi selalu dipantau 24 jam sehari untuk mendeteksi perubahan sekecil apapun dalam tubuh gunung. Laporan berkala mengenai tingkat aktivitas gunung rutin dikeluarkan agar masyarakat dan pihak terkait dapat mengambil langkah antisipasi yang diperlukan berdasarkan data ilmiah. Kolaborasi yang erat antara ilmuwan, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi esensial dalam manajemen risiko bencana Merapi yang efektif. Upaya ini bertujuan untuk meminimalkan dampak buruk jika terjadi peningkatan aktivitas yang lebih signifikan atau erupsi.

Sebagai salah satu gunung api teraktif di dunia, Merapi memang memiliki riwayat panjang erupsi dan aktivitas vulkanik yang seringkali dinamis. Sejak erupsi besar pada tahun 2010 yang berdampak luas, gunung ini secara periodik menunjukkan aktivitas seperti guguran lava dan letusan efusif. Masyarakat di sekitarnya telah lama hidup berdampingan dengan ancaman ini, mengembangkan kearifan lokal dan sistem peringatan dini berbasis komunitas. Namun, setiap periode peningkatan aktivitas selalu menuntut kewaspadaan baru dan adaptasi terhadap kondisi terkini gunung. Pemahaman tentang pola aktivitas historis Merapi juga menjadi panduan penting bagi para ahli dalam menyusun strategi mitigasi bencana di masa depan.

Dengan adanya peringatan dari Pelaksana Tugas Menteri Kehutanan ini, diharapkan semua pihak dapat meningkatkan sinergi dalam menjaga keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat. Konsep hidup harmonis dengan ekosistem bukan hanya sebuah slogan, melainkan sebuah strategi nyata untuk beradaptasi dengan potensi bencana alam yang tidak dapat dihindari. Kewaspadaan kolektif dan koordinasi yang baik antara pemerintah, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat adalah fondasi utama dalam menghadapi dinamika Merapi yang tak terduga. Dengan demikian, ancaman yang mungkin timbul dapat diminimalisir melalui persiapan yang matang dan respons yang terkoordinasi secara efektif. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman dan lestari di kaki Gunung Merapi, sambil tetap menjaga hubungan harmonis dengan alam sekitar.

Referensi: mediaindonesia.com