News

Gusdurian Majalengka Ajak Refleksi Ekologis Lewat Bedah Film Dokumenter Mendalam

25 February 2026
10:17 WIB
Gusdurian Majalengka Ajak Refleksi Ekologis Lewat Bedah Film Dokumenter Mendalam
sumber gambar : asset.tribunnews.com
Majalengka kembali menjadi pusat perhatian dalam diskusi lingkungan hidup, menyusul penyelenggaraan bedah film dokumenter yang diinisiasi oleh Komunitas Gusdurian Majalengka pada Minggu (22/2/2026) lalu. Acara yang bertajuk 'Suarakan Kepedulian Ekologis' ini berhasil menarik berbagai kalangan untuk merenungkan kembali urgensi menjaga kelestarian alam serta tanggung jawab moral manusia terhadap bumi. Dialog interaktif ini bertujuan untuk tidak hanya memaparkan permasalahan, tetapi juga menggagas solusi konkret yang dapat diimplementasikan secara kolektif. Inisiatif ini menegaskan komitmen Gusdurian dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang melekat pada isu lingkungan. Wacana seputar ekologi kini tidak lagi menjadi perbincangan elitis, melainkan telah menjadi bagian integral dari kesadaran publik di Majalengka.

Film dokumenter yang diputar dalam kesempatan tersebut mengangkat berbagai potret kerusakan lingkungan yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia, termasuk ancaman terhadap ekosistem lokal. Melalui narasi visual yang kuat, peserta diajak untuk menyaksikan langsung dampak eksploitasi sumber daya alam yang tidak bertanggung jawab, mulai dari pencemaran air, deforestasi, hingga hilangnya keanekaragaman hayati. Dokumenter ini secara gamblang menunjukkan bagaimana kearifan lokal dalam mengelola alam seringkali terpinggirkan oleh kepentingan ekonomi jangka pendek. Berbagai fragmen kehidupan masyarakat adat yang berjuang mempertahankan tanah leluhur mereka juga turut disajikan, memberikan perspektif humanis yang mendalam. Tayangan ini sukses memicu emosi dan memantik refleksi kritis di antara para penonton.

Ketua Koordinator Gusdurian Majalengka, Kang Roni, dalam sambutannya menekankan bahwa kepedulian ekologis adalah bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai kemanusiaan universal yang diajarkan Gus Dur. Menurutnya, kerusakan lingkungan bukan hanya masalah teknis, melainkan juga krisis moral dan spiritual yang membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Ia menyoroti bahwa bumi adalah titipan yang harus dijaga untuk generasi mendatang, bukan warisan yang bisa dieksploitasi sesuka hati. Kegiatan ini merupakan upaya nyata Gusdurian untuk merangkul pemikiran Gus Dur yang selalu relevan dalam menjawab tantangan zaman, termasuk isu keberlanjutan. Diskusi semacam ini diharapkan dapat menjadi pemicu bagi tindakan nyata di level komunitas.

Acara tersebut dihadiri oleh beragam partisipan, mulai dari aktivis lingkungan lokal, mahasiswa, perwakilan organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap isu lingkungan. Kehadiran berbagai latar belakang ini menciptakan dinamika diskusi yang kaya akan sudut pandang dan pengalaman. Interaksi antarpeserta terlihat aktif, dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan yang diajukan selama sesi bedah film. Hal ini menunjukkan antusiasme masyarakat Majalengka terhadap isu lingkungan hidup yang semakin meningkat. Keberagaman audiens juga mencerminkan bahwa isu ekologi telah melampaui batas-batas sektoral, menjadi perhatian bersama.

Sesi diskusi pasca-pemutaran film menjadi inti dari kegiatan ini, di mana para peserta diajak untuk menggali lebih dalam akar permasalahan lingkungan dan potensi solusinya. Beberapa poin penting yang mengemuka adalah urgensi kebijakan yang berpihak pada lingkungan, peran pendidikan dalam membentuk kesadaran ekologis sejak dini, serta pentingnya kolaborasi antarpihak. Pembahasan juga menyentuh pada upaya mitigasi dampak perubahan iklim dan adaptasi terhadap fenomena alam yang kian ekstrem. Para narasumber, yang terdiri dari akademisi dan praktisi lingkungan, memberikan wawasan mendalam mengenai isu-isu tersebut. Diskusi ini berhasil merumuskan beberapa langkah awal yang bisa diambil oleh individu maupun komunitas untuk berkontribusi pada perlindungan lingkungan.

Seorang peserta dari kalangan mahasiswa, Dewi Lestari, mengungkapkan bahwa film dan diskusi ini membuka matanya tentang realitas lingkungan yang memprihatinkan. 'Kami seringkali merasa jauh dari masalah ini, namun setelah melihat tayangan tadi, kami sadar bahwa dampaknya sudah di depan mata dan butuh aksi kolektif,' ujarnya dengan semangat. Ia berharap inisiatif semacam ini dapat terus digalakkan agar semakin banyak anak muda yang tergerak untuk menjadi bagian dari solusi. Pernyataan ini menegaskan bahwa pesan yang disampaikan melalui medium film dokumenter memiliki kekuatan persuasif yang luar biasa. Harapan untuk perubahan positif semakin menguat seiring tumbuhnya kesadaran di kalangan generasi muda.

Kegiatan bedah film ini tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi juga diharapkan dapat menjadi katalisator bagi gerakan-gerakan lingkungan yang lebih besar di Majalengka. Diharapkan munculnya inisiatif-inisiatif lokal yang fokus pada penanaman pohon, pengelolaan sampah, atau advokasi kebijakan lingkungan yang lebih ketat. Gusdurian Majalengka berkomitmen untuk terus memfasilitasi ruang-ruang dialog semacam ini, membangun jaringan kolaborasi dengan berbagai pihak yang peduli. Upaya ini merupakan bagian dari visi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang lebih lestari dan berkeadilan ekologis. Dampak jangka panjang dari acara ini diyakini akan terlihat dari peningkatan partisipasi publik dalam isu-isu lingkungan.

Melalui acara ini, Gusdurian Majalengka secara tegas menyerukan agar setiap individu mulai merefleksikan kembali gaya hidup dan konsumsi mereka yang mungkin berdampak negatif pada lingkungan. Ajakan untuk bertindak dimulai dari hal kecil, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mendukung produk ramah lingkungan, hingga berpartisipasi dalam program daur ulang. Inisiatif seperti ini adalah fondasi penting untuk membangun kesadaran kolektif yang esensial dalam menghadapi tantangan lingkungan global. Mereka berharap agar semangat kepedulian ini tidak padam setelah acara selesai, melainkan terus menyala dan menginspirasi aksi nyata. Komitmen untuk terus mendorong dialog dan aksi nyata menjadi prioritas.

Dengan demikian, bedah film dokumenter yang diselenggarakan oleh Gusdurian Majalengka bukan sekadar agenda rutin, melainkan sebuah pernyataan kuat tentang urgensi kepedulian ekologis. Acara ini berhasil membuka mata banyak pihak, memantik diskusi mendalam, dan menumbuhkan harapan akan perubahan yang lebih baik. Melalui kombinasi tayangan visual dan dialog interaktif, isu lingkungan hidup diangkat dari ranah akademis ke dalam ruang publik yang lebih luas. Semangat kebersamaan dalam menjaga kelestarian alam menjadi benang merah yang kuat dari seluruh rangkaian kegiatan. Inisiatif ini menandai babak baru dalam upaya menciptakan Majalengka yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Referensi: jabar.tribunnews.com