News
Danantara Genjot Hilirisasi Senilai US$7 Miliar, Perkuat Fondasi Industri Nasional
10 February 2026
10:00 WIB
sumber gambar : statik.tempo.co
PT Danantara Indonesia secara resmi memulai implementasi enam proyek hilirisasi ambisius di berbagai penjuru negeri, menandai sebuah langkah strategis dalam upaya penguatan industri nasional.
Investasi masif senilai US$ 7 miliar, atau setara dengan sekitar Rp 108,5 triliun (dengan asumsi kurs Rp 15.500 per dolar AS), dialokasikan untuk inisiatif ini, yang diharapkan mampu menciptakan nilai tambah signifikan bagi perekonomian Indonesia. Proyek-proyek ini bertujuan utama untuk mengurangi ketergantungan negara terhadap impor bahan baku dan produk industri, sekaligus mendorong kemandirian ekonomi jangka panjang.
Langkah Danantara ini sejalan dengan agenda pemerintah yang secara konsisten menggaungkan pentingnya hilirisasi sumber daya alam, bukan sekadar mengekspor bahan mentah. Dengan mengolah komoditas domestik menjadi produk bernilai lebih tinggi, Indonesia dapat memperoleh keuntungan berlipat ganda, mulai dari penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, hingga peningkatan pendapatan negara. Kebijakan ini merupakan fondasi vital untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045.
Enam proyek yang tengah berjalan ini mencakup berbagai sektor strategis, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan nikel menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik di Morowali, Sulawesi Tengah, serta pabrik alumina di Kalimantan Barat untuk mendukung industri aluminium nasional. Selain itu, ada pula investasi pada sektor petrokimia di Jawa Barat guna memproduksi bahan dasar plastik dan serat sintetis, yang selama ini masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri. Diversifikasi proyek ini menunjukkan komitmen Danantara dalam menyentuh berbagai mata rantai industri penting.
Melalui investasi besar-besaran ini, Danantara diproyeksikan akan memberikan dampak multidimensi bagi perekonomian. Ribuan lapangan kerja baru akan terbuka, baik secara langsung maupun tidak langsung, di berbagai daerah tempat proyek berlokasi, sehingga mampu menggerakkan roda perekonomian lokal. Selain itu, hadirnya industri pengolahan modern diharapkan dapat menarik investasi lanjutan serta meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia Indonesia dalam mengoperasikan teknologi canggih.
Aspek krusial lainnya adalah kontribusi terhadap pengurangan defisit neraca perdagangan melalui substitusi impor. Dengan memproduksi barang-barang strategis di dalam negeri, mulai dari komponen baterai hingga produk petrokimia, kebutuhan akan impor akan berkurang drastis, menghemat devisa negara, dan memperkuat stabilitas ekonomi makro. Ini adalah langkah konkret menuju kemandirian ekonomi yang lebih tangguh di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan.
Meski prospeknya cerah, implementasi proyek hilirisasi berskala besar seperti ini tentu tidak lepas dari tantangan. Danantara akan menghadapi isu-isu kompleks seperti penyediaan energi berkelanjutan, pengelolaan limbah yang ramah lingkungan, serta memastikan ketersediaan pasokan bahan baku yang stabil dan konsisten. Koordinasi erat dengan pemerintah pusat dan daerah, serta dukungan regulasi yang adaptif, akan menjadi kunci sukses dalam mengatasi berbagai hambatan tersebut dan memastikan keberlanjutan proyek.
Inisiatif Danantara Indonesia ini tidak hanya mencerminkan visi korporasi yang jauh ke depan, tetapi juga menjadi cerminan optimisme sektor swasta dalam mendukung agenda industrialisasi nasional. Keberhasilan keenam proyek ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi investasi hilirisasi lainnya, memicu efek domino yang positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Hal ini sekaligus menunjukkan kesiapan Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global dengan produk-produk bernilai tambah.
Dengan dimulainya enam proyek hilirisasi raksasa ini, Danantara Indonesia telah menancapkan fondasi kuat bagi masa depan industri Tanah Air yang lebih mandiri dan berdaya saing. Harapan besar tersemat agar proyek-proyek ini tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga mampu memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat dan memperkokoh kedaulatan ekonomi Indonesia di kancah internasional. Ini adalah sebuah babak baru dalam perjalanan pembangunan ekonomi yang progresif.
Referensi:
nasional.tempo.co