News

REI Jabar Desak Kenaikan Harga Rumah Subsidi 5-10% Setelah Tiga Tahun Stagnan Akibat Material

21 July 2026
16:04 WIB
REI Jabar Desak Kenaikan Harga Rumah Subsidi 5-10% Setelah Tiga Tahun Stagnan Akibat Material
jabar.tribunnews.com
Real Estat Indonesia (REI) Jawa Barat secara resmi mengajukan usulan penting terkait kebijakan harga rumah subsidi di wilayah tersebut. Organisasi pengembang properti ini mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan kenaikan harga rumah subsidi sebesar 5 hingga 10 persen dari harga saat ini. Permintaan ini muncul sebagai respons langsung terhadap lonjakan harga material bangunan yang signifikan dan telah berlangsung selama beberapa waktu terakhir. Terlebih, harga rumah subsidi diketahui telah stagnan selama tiga tahun berturut-turut, menyebabkan beban operasional dan biaya produksi bagi pengembang semakin berat dan tidak lagi realistis. Kenaikan harga ini dinilai krusial untuk menjaga keberlangsungan pembangunan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) agar tidak terhenti.

Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Jawa Barat, Norman Nurdjaman, menyampaikan kekhawatiran mendalamnya atas kondisi industri properti. Menurut Norman, harga bahan bangunan utama seperti semen, baja, pasir, dan material lainnya telah mengalami kenaikan yang substansial, mencapai antara 10 hingga 20 persen dalam beberapa periode terakhir. Lonjakan biaya ini secara langsung membebani pengembang dan menekan margin keuntungan mereka hingga ke titik yang tidak layak. Kondisi ini diperparah oleh kebijakan pemerintah yang menahan harga rumah subsidi tanpa penyesuaian sejak tiga tahun lalu, menciptakan kesenjangan lebar antara biaya produksi riil dan harga jual yang ditetapkan. Akibatnya, pengembang berpotensi merugi, yang pada akhirnya dapat menghambat pasokan rumah bagi MBR.

Usulan kenaikan 5-10 persen bukanlah angka yang sembarangan, melainkan hasil perhitungan cermat dari REI Jabar untuk menyesuaikan dengan realitas pasar. Persentase tersebut diharapkan mampu menutupi peningkatan biaya material dan operasional yang tidak dapat dihindari, serta menjaga kelangsungan bisnis pengembang. Meskipun disadari ada kekhawatiran bahwa kenaikan harga akan membebani konsumen, Norman menegaskan bahwa tanpa penyesuaian ini, banyak pengembang akan kesulitan untuk terus membangun dan bahkan dapat gulung tikar. Kenaikan harga yang moderat ini diharapkan tidak akan terlalu signifikan memberatkan daya beli masyarakat berpenghasilan rendah. Tujuannya adalah memastikan proyek pembangunan rumah subsidi tetap menarik bagi investor dan pengembang, sehingga target penyediaan rumah tetap tercapai.

Stagnasi harga rumah subsidi selama tiga tahun terakhir telah menjadi sorotan utama bagi para pelaku industri properti. Kebijakan pemerintah yang menahan harga ini awalnya bertujuan untuk menjaga stabilitas pasar dan daya beli masyarakat, khususnya di segmen MBR. Namun, di tengah gejolak ekonomi global, kenaikan inflasi, dan fluktuasi harga komoditas, kebijakan tersebut kini berbalik menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan sektor perumahan subsidi. Banyak proyek perumahan subsidi terancam molor atau bahkan berhenti total jika tidak ada penyesuaian harga yang adaptif. Situasi ini berpotensi memperlambat upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan perumahan bagi jutaan keluarga Indonesia yang mendambakan tempat tinggal layak.

REI Jabar sangat berharap pemerintah pusat segera menanggapi usulan ini dengan serius dan melakukan kajian mendalam bersama pihak terkait. Keterlambatan dalam penyesuaian harga bisa berdampak signifikan pada pasokan rumah subsidi di masa mendatang, bahkan berpotensi menciptakan kelangkaan. Hal ini pada gilirannya dapat mendorong harga rumah di sektor non-subsidi ikut naik karena berkurangnya pilihan bagi MBR, memicu efek domino yang tidak diharapkan. Dialog konstruktif antara asosiasi pengembang, kementerian terkait, perbankan, dan pihak lainnya sangat dibutuhkan untuk mencapai solusi terbaik yang berpihak pada semua pihak. Keberlangsungan program sejuta rumah yang menjadi andalan pemerintah sangat bergantung pada kebijakan harga yang adaptif dan realistis terhadap kondisi pasar.

Dengan demikian, usulan kenaikan harga rumah subsidi oleh REI Jabar ini mencerminkan urgensi yang mendesak di sektor properti. Tujuannya bukan semata-mata untuk keuntungan pengembang, melainkan untuk menjaga keberlanjutan program penyediaan perumahan yang terjangkau bagi masyarakat luas. Keseimbangan antara daya beli masyarakat dan biaya produksi pengembang adalah kunci utama agar program ini tetap berjalan efektif dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Keputusan pemerintah dalam menyikapi usulan ini akan sangat menentukan arah pembangunan perumahan subsidi di Jawa Barat, bahkan secara nasional di masa mendatang. Semua pihak berharap ada solusi bijak yang mampu mengakomodasi kepentingan pengembang sekaligus melindungi hak masyarakat akan tempat tinggal layak dan terjangkau.

Referensi: jabar.tribunnews.com