PWNU DKI Desak Islah, Dorong Persatuan PBNU Hadapi Polemik Internal
28 November 2025
10:15 WIB
sumber gambar : rmol.id
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta melalui Katib Syuriyah-nya, KH. Lukman Hakim Hamid, menyuarakan pentingnya upaya islah atau rekonsiliasi demi menuntaskan polemik internal yang kini melanda Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kiai Lukman, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Alhamid Jakarta, menegaskan bahwa seruan ini muncul dari keprihatinan mendalam terhadap dinamika yang sedang terjadi di tingkat pusat organisasi. PWNU DKI Jakarta, dalam menyikapi situasi ini, memilih untuk tidak mengambil posisi menghakimi atau memihak salah satu kubu. Mereka berkomitmen penuh untuk menjaga marwah dan kehormatan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini dari segala bentuk perpecahan. Tujuannya adalah memastikan PBNU tetap solid dan fokus pada tujuan utamanya melayani umat.
Polemik internal yang disebutkan tengah menyelimuti tubuh PBNU memang menjadi perhatian banyak pihak, mengingat posisi strategis NU sebagai pilar kebangsaan dan keagamaan di Indonesia. Meskipun detail spesifik dari kisruh tersebut tidak dijelaskan secara rinci oleh PWNU DKI Jakarta, namun dampaknya yang berpotensi mengganggu stabilitas organisasi menjadi alasan kuat desakan islah ini. Konflik internal dalam organisasi sebesar PBNU tentu memiliki implikasi luas, tidak hanya bagi jajaran pengurus, tetapi juga bagi jutaan warga Nahdliyin di seluruh pelosok negeri. Soliditas kepemimpinan menjadi kunci utama agar program-program strategis organisasi dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, penyelesaian yang damai dan bermartabat sangat krusial untuk masa depan PBNU.
Sikap netral PWNU DKI Jakarta dalam menghadapi situasi ini patut diapresiasi karena mencerminkan kedewasaan berorganisasi. Kiai Lukman menjelaskan bahwa PWNU DKI Jakarta tidak berada dalam posisi untuk membenarkan atau menyalahkan pihak manapun yang terlibat dalam polemik tersebut. Pendekatan ini diambil dengan kesadaran penuh akan pentingnya menjaga jarak dan objektivitas agar bisa menjadi fasilitator bagi solusi, bukan bagian dari masalah itu sendiri. Posisi ini memungkinkan PWNU DKI Jakarta untuk tetap fokus pada tugas-tugas kewilayahan sekaligus berperan sebagai jembatan komunikasi jika diperlukan. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan ruang dialog yang konstruktif tanpa prasangka atau bias yang memecah belah. Integritas organisasi tetap menjadi prioritas utama di atas kepentingan individu atau kelompok tertentu.
Konsep islah sendiri sangat fundamental dalam ajaran Islam, menekankan pentingnya perdamaian, persatuan, dan penyelesaian konflik melalui musyawarah mufakat. Dalam konteks organisasi keagamaan seperti NU, islah bukan hanya sekadar solusi pragmatis, tetapi juga merupakan manifestasi nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi. Upaya rekonsiliasi ini diharapkan dapat mengembalikan keharmonisan dan menghilangkan potensi perpecahan yang dapat merusak citra serta efektifitas PBNU. Dengan tercapainya islah, energi organisasi dapat kembali dicurahkan sepenuhnya untuk kemaslahatan umat dan bangsa, alih-alih terkuras oleh friksi internal yang tidak produktif. Spirit kebersamaan dan persaudaraan sesama Nahdliyin harus selalu menjadi landasan setiap langkah yang diambil oleh para pemimpin.
Seruan dari KH. Lukman Hakim Hamid sebagai seorang Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Alhamid Jakarta membawa bobot spiritual dan intelektual yang signifikan. Posisi beliau sebagai ulama dan pemimpin pesantren memberikan kredibilitas ekstra terhadap seruan untuk berislah ini. Suara para ulama diyakini memiliki pengaruh besar dalam menenangkan suasana dan mendorong semua pihak yang berpolemik untuk kembali kepada akar nilai-nilai NU. Para pemimpin PBNU diharapkan mendengarkan dan meresapi pesan perdamaian yang disampaikan oleh para tokoh di tingkat wilayah. Ini merupakan panggilan moral bagi seluruh jajaran pengurus untuk mengesampingkan perbedaan demi keutuhan dan kejayaan organisasi.
Dengan demikian, seruan islah yang dilayangkan PWNU DKI Jakarta menjadi refleksi dari harapan besar agar PBNU dapat segera bangkit dari tantangan internalnya. Stabilitas PBNU sangat vital tidak hanya bagi warga Nahdliyin, tetapi juga bagi stabilitas sosial dan politik nasional mengingat perannya yang begitu sentral. Sebuah penyelesaian yang bijaksana dan menyeluruh akan memastikan PBNU dapat terus menjalankan peran historisnya sebagai penjaga tradisi keislaman Nusantara serta mitra strategis pemerintah dalam pembangunan bangsa. Harapan semua pihak adalah agar polemik ini dapat segera diselesaikan secara kekeluargaan, mengedepankan prinsip musyawarah, dan menghasilkan PBNU yang semakin kuat dan bersatu di masa mendatang. Organisasi harus selalu lebih besar dari kepentingan individu.