News

Kondisi Jalan Desa Biih Kian Memprihatinkan, Angkutan Tambang Disorot Jadi Biang Kerok

21 July 2026
11:55 WIB
Kondisi Jalan Desa Biih Kian Memprihatinkan, Angkutan Tambang Disorot Jadi Biang Kerok
banjarmasin.tribunnews.com
Jalan penghubung di Desa Biih, Kecamatan Karangintan, Kabupaten Banjar, kini menjadi sorotan publik akibat kondisinya yang rusak parah dan diselimuti debu tebal. Kondisi infrastruktur vital ini dikeluhkan oleh masyarakat setempat yang setiap hari harus berhadapan dengan jalan penuh batu kerikil dan partikel debu halus. Pihak pemerintah desa tidak menampik bahwa kerusakan jalan tersebut adalah dampak langsung dari aktivitas angkutan tambang yang intens melintasi wilayah mereka. Permasalahan ini telah berlangsung cukup lama dan memicu kekhawatiran serius mengenai kesehatan serta keselamatan warga. Masyarakat mendesak agar ada tindakan konkret dari pihak terkait untuk mengatasi kondisi jalan yang semakin memburuk.

Kerusakan jalan di Desa Biih bukan hanya sekadar retakan atau lubang kecil, melainkan sudah mencapai tahap yang membahayakan pengguna jalan. Batu-batu kerikil yang berserakan di sepanjang jalan membuat pengendara sepeda motor rentan tergelincir, sementara debu tebal yang membumbung tinggi mengurangi jarak pandang secara signifikan. Debu ini juga secara konstan menutupi rumah-rumah penduduk, warung, dan tanaman, menciptakan lingkungan yang tidak sehat dan kotor. Beberapa warga bahkan melaporkan peningkatan kasus gangguan pernapasan, yang diduga kuat berkaitan dengan polusi udara akibat debu tambang tersebut. Kondisi ini secara nyata mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup masyarakat Desa Biih.

Kepala Desa Biih, dalam pernyataannya, secara terbuka mengakui bahwa lalu lintas angkutan tambang menjadi penyebab utama kerusakan dan polusi di jalan desa mereka. Ia menjelaskan bahwa frekuensi dan muatan kendaraan berat yang mengangkut material tambang secara terus-menerus melebihi kapasitas jalan desa yang ada. Meskipun upaya komunikasi dengan pihak perusahaan tambang telah dilakukan, perbaikan signifikan terhadap kondisi jalan belum juga terealisasi hingga saat ini. Kades juga menyampaikan bahwa pemerintah desa memiliki keterbatasan anggaran untuk menanggulangi kerusakan jalan yang begitu masif. Pengakuan ini memperkuat dugaan masyarakat mengenai keterlibatan sektor pertambangan dalam masalah infrastruktur lokal.

Warga Desa Biih mengungkapkan frustrasi mereka atas dampak buruk yang ditimbulkan oleh aktivitas tambang yang beroperasi di sekitar desa. Selain masalah kesehatan, kerusakan jalan juga menyebabkan kerusakan pada kendaraan pribadi mereka, meningkatkan biaya perawatan dan perbaikan. Para ibu rumah tangga mengeluhkan cucian yang tidak pernah bersih sempurna karena debu yang menempel, serta keharusan membersihkan rumah berulang kali dalam sehari. Kondisi jalan yang licin akibat batu dan minimnya penerangan di malam hari juga menambah kekhawatiran akan potensi kecelakaan. Masyarakat merasa bahwa hak mereka atas lingkungan yang bersih dan aman telah terabaikan demi kepentingan bisnis pertambangan.

Menyikapi permasalahan ini, berbagai pihak diharapkan dapat duduk bersama mencari solusi yang berkelanjutan. Perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah tersebut memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan untuk memperbaiki serta memelihara infrastruktur yang mereka gunakan. Pemerintah daerah juga dituntut untuk memperketat pengawasan dan menegakkan regulasi terkait dampak lingkungan dari kegiatan pertambangan. Alternatif rute untuk angkutan tambang atau pembatasan jam operasional bisa menjadi salah satu opsi yang perlu dipertimbangkan untuk mengurangi beban pada jalan desa. Prioritas utama haruslah kesejahteraan dan kesehatan masyarakat Desa Biih.

Kondisi jalan di Desa Biih ini juga menyoroti pentingnya perencanaan tata ruang dan analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang komprehensif untuk setiap proyek pertambangan. Evaluasi berkala terhadap implementasi AMDAL menjadi krusial untuk memastikan bahwa mitigasi dampak negatif terlaksana dengan baik. Jika jalan desa memang tidak dirancang untuk menahan beban berat angkutan tambang, maka penyediaan jalur khusus atau peningkatan kualitas jalan harus menjadi bagian integral dari izin operasional perusahaan. Masyarakat berharap ada transparansi lebih lanjut mengenai langkah-langkah yang akan diambil oleh perusahaan dan pemerintah dalam waktu dekat. Kegagalan dalam menangani isu ini dapat berdampak lebih luas, tidak hanya pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada ikatan sosial dan kepercayaan publik.

Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah proaktif dan kolaboratif dari semua pihak untuk mengakhiri penderitaan warga Desa Biih. Pemerintah Kabupaten Banjar, bersama dengan dinas terkait, harus memfasilitasi dialog konstruktif antara masyarakat dan perusahaan tambang demi mencapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak. Perbaikan jalan yang permanen, penyiraman jalan secara rutin, dan program kesehatan bagi warga yang terdampak debu harus menjadi prioritas utama. Penegasan komitmen terhadap pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah kunci untuk memastikan bahwa pembangunan ekonomi tidak mengorbankan kualitas hidup masyarakat lokal. Harapan akan lingkungan yang lebih baik kini bertumpu pada keseriusan pihak-pihak berwenang dalam menyelesaikan masalah ini secara tuntas.

Referensi: banjarmasin.tribunnews.com