Empat Personel Brimob Diperiksa Propam Terkait Penembakan Warga di Tambang Ilegal Bombana
13 January 2026
11:35 WIB
asset.tribunnews.com
Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) saat ini tengah melakukan pemeriksaan intensif terhadap empat personel Brigade Mobil (Brimob). Pemeriksaan ini menyusul insiden penembakan seorang warga sipil di area tambang ilegal Desa Wambarema, Kabupaten Bombana. Insiden serius yang melibatkan aparat kepolisian ini telah menarik perhatian publik dan menjadi prioritas penyelidikan internal. Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polres Bombana, Iptu Abd Hakim, telah membenarkan adanya kejadian tragis tersebut. Penyelidikan oleh Propam bertujuan untuk mengusut tuntas kronologi, motif, dan pertanggungjawaban di balik insiden penembakan ini.
Iptu Abd Hakim secara resmi mengonfirmasi bahwa penembakan itu benar-benar terjadi di lokasi pertambangan ilegal yang terletak di wilayah Desa Wambarema. Korban, seorang warga sipil, dilaporkan menderita luka tembak akibat kejadian tersebut. Detail mengenai kondisi korban maupun jenis luka masih dalam pendataan lebih lanjut oleh pihak berwenang. Insiden ini menambah daftar panjang kompleksitas permasalahan yang kerap muncul di sekitar aktivitas pertambangan tanpa izin. Kejadian naas tersebut terjadi di tengah upaya penertiban atau pengawasan terhadap kegiatan ilegal yang marak di daerah tersebut.
Keterlibatan Propam Polda Sultra dalam kasus ini menunjukkan keseriusan institusi Polri dalam menindaklanjuti dugaan pelanggaran yang melibatkan anggotanya. Propam memiliki mandat untuk menegakkan disiplin, etika, dan hukum di kalangan kepolisian guna menjaga profesionalisme dan kepercayaan publik. Pemeriksaan terhadap empat personel Brimob merupakan langkah awal untuk mengumpulkan fakta-fakta objektif serta memastikan proses penyelidikan berjalan transparan dan akuntabel. Tujuan utama dari penyelidikan ini adalah untuk mengungkap kebenaran di balik insiden penembakan tersebut. Setiap pelanggaran prosedur standar operasi yang ditemukan akan ditindak tegas sesuai peraturan yang berlaku.
Empat personel Brimob yang sedang diperiksa oleh Propam Polda Sultra belum diungkap identitas lengkapnya kepada publik. Mereka saat ini sedang menjalani serangkaian interogasi mendalam untuk menggali keterangan terkait peran masing-masing dalam insiden penembakan. Status mereka saat ini adalah saksi atau terperiksa dalam proses penyelidikan internal kepolisian. Propam akan menelaah setiap detail kesaksian, alat bukti, serta rekaman kejadian jika tersedia untuk mendapatkan gambaran utuh. Prosedur ini penting untuk memastikan tidak ada informasi yang terlewatkan dalam upaya mencari keadilan.
Insiden penembakan ini tidak terlepas dari konteks masalah pertambangan ilegal yang telah lama menjadi isu krusial di wilayah Bombana. Aktivitas penambangan tanpa izin sering kali memicu konflik sosial, kerusakan lingkungan, dan juga potensi gesekan dengan aparat penegak hukum. Daerah tambang ilegal dikenal sebagai zona rawan konflik karena minimnya regulasi dan pengawasan yang memadai. Aparat kepolisian, termasuk Brimob, seringkali dikerahkan untuk melakukan penertiban atau pengamanan di area-area tersebut. Oleh karena itu, insiden seperti ini menunjukkan betapa berbahayanya situasi di lapangan bagi semua pihak yang terlibat.
Masyarakat Bombana, khususnya di sekitar Desa Wambarema, tentu menaruh harapan besar agar penyelidikan ini dilakukan secara jujur dan adil. Kasus penembakan warga sipil oleh aparat kepolisian selalu menjadi perhatian serius yang dapat mempengaruhi citra institusi penegak hukum. Penting bagi Polda Sultra untuk memberikan informasi yang transparan kepada publik seiring berjalannya proses penyelidikan. Kepercayaan masyarakat terhadap kepolisian sangat bergantung pada kemampuan institusi untuk menuntaskan kasus-kasus sensitif seperti ini dengan profesionalisme tinggi. Diharapkan agar pihak berwenang dapat segera memberikan kejelasan mengenai nasib korban dan hasil pemeriksaan personel yang terlibat.
Jika hasil penyelidikan Propam membuktikan adanya pelanggaran prosedur atau penggunaan kekuatan yang berlebihan, personel Brimob yang terlibat dapat menghadapi sanksi berat. Sanksi tersebut bisa berupa sanksi disipliner, kode etik profesi, hingga proses hukum pidana sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Institusi Polri memiliki kode etik yang ketat mengenai penggunaan senjata api dan prosedur penindakan di lapangan. Kepatuhan terhadap Standard Operating Procedure (SOP) adalah kunci untuk memastikan tindakan aparat selalu sesuai koridor hukum dan HAM. Setiap tindakan yang melampaui batas kewenangan akan dipertanggungjawabkan secara hukum.
Penyelidikan yang dilakukan oleh Propam Polda Sultra masih akan terus berjalan untuk mengumpulkan semua bukti dan keterangan yang relevan. Tahap selanjutnya mungkin melibatkan pemeriksaan tambahan terhadap saksi mata, analisis TKP ulang, hingga uji balistik jika diperlukan. Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan memberikan kepercayaan penuh kepada tim penyidik agar dapat bekerja optimal. Hasil akhir dari penyelidikan ini akan diumumkan setelah semua tahapan telah selesai dan fakta-fakta telah terkumpul secara menyeluruh. Proses ini diharapkan dapat mengungkap seluruh kebenaran tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Insiden penembakan warga sipil di tambang ilegal Bombana yang menyeret empat personel Brimob menjadi fokus utama penyelidikan Propam Polda Sultra. Kasus ini menyoroti kompleksitas pengamanan di wilayah pertambangan ilegal serta urgensi penegakan hukum yang berkeadilan. Propam berkomitmen untuk menuntaskan kasus ini secara profesional dan transparan, demi menjaga integritas institusi kepolisian. Diharapkan agar proses hukum dan etik dapat berjalan lancar serta menghasilkan keputusan yang adil bagi semua pihak yang terlibat. Penyelidikan mendalam ini diharapkan dapat menjadi pelajaran berharga untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.