News
Emas Diproyeksikan Sentuh Rp 2,7 Juta/Gram Akhir 2025: Geopolitik dan Ekonomi Global Pemicunya
29 December 2025
13:39 WIB
sumber gambar : akcdn.detik.net.id
Harga emas diproyeksikan melonjak signifikan, diperkirakan mencapai Rp 2,7 juta per gram pada akhir tahun 2025. Prediksi ini datang dari sejumlah analis pasar dan pengamat ekonomi yang mencermati berbagai indikator global. Kenaikan harga logam mulia ini didorong oleh konvergensi faktor ekonomi makro dan ketegangan geopolitik yang menciptakan ketidakpastian di pasar finansial dunia. Emas secara historis telah membuktikan diri sebagai aset "safe haven" yang dicari investor di tengah gejolak, sehingga permintaannya cenderung meningkat saat risiko global membayangi. Potensi kenaikan ini tentu menarik perhatian para investor yang mencari lindung nilai terhadap inflasi dan volatilitas pasar.
Salah satu pendorong utama adalah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), di bawah kepemimpinan Jerome Powell. Ekspektasi penurunan suku bunga acuan The Fed di masa depan diperkirakan akan melemahkan indeks dolar Amerika Serikat. Melemahnya dolar secara tradisional membuat emas lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga mendorong peningkatan permintaan global. Hubungan terbalik antara nilai dolar dan harga emas merupakan prinsip dasar dalam pasar komoditas. Pergeseran kebijakan ini merupakan respons terhadap kondisi ekonomi AS yang melambat dan upaya menstimulasi pertumbuhan.
Di sisi geopolitik, Pemilihan Presiden AS yang akan datang, dengan potensi kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih, menambah lapisan ketidakpastian. Kebijakan-kebijakan Trump yang proteksionis dan kerap menimbulkan friksi internasional dapat menciptakan gejolak signifikan di pasar keuangan global. Investor cenderung mencari perlindungan dalam aset-aset aman seperti emas ketika prospek politik global menjadi tidak menentu. Ketidakpastian mengenai perjanjian perdagangan, aliansi internasional, dan stabilitas politik dapat memicu arus modal masuk ke pasar emas. Oleh karena itu, hasil pemilihan AS akan menjadi salah satu faktor kunci yang dicermati pasar emas.
Selain itu, konflik-konflik global yang sedang berlangsung juga turut memanaskan harga emas. Perang di Ukraina, yang melibatkan Presiden Volodymyr Zelensky, serta ketegangan di Venezuela di bawah Presiden Nicolas Maduro, terus menciptakan ketidakamanan geopolitik yang meluas. Escalation konflik di berbagai wilayah dunia secara langsung meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai terhadap risiko. Gangguan pada rantai pasok global dan fluktuasi harga komoditas lainnya, seperti minyak mentah, seringkali menjadi konsekuensi dari krisis geopolitik. Kondisi ini membuat investor semakin yakin untuk menempatkan dana mereka pada logam mulia.
Pasar minyak mentah juga memainkan peran penting dalam dinamika harga emas, terutama melalui dampaknya terhadap inflasi. Keputusan produksi oleh negara-negara OPEC, termasuk kontribusi dari Nigeria dan Rusia, secara langsung memengaruhi pasokan dan harga minyak global. Kenaikan harga minyak mentah cenderung memicu inflasi di seluruh dunia, karena biaya produksi dan transportasi meningkat. Emas secara historis dikenal sebagai pelindung nilai yang efektif terhadap inflasi, sehingga kekhawatiran akan kenaikan biaya hidup mendorong investor untuk beralih ke logam mulia. Bank sentral di berbagai negara mungkin akan kesulitan menahan laju inflasi jika harga minyak terus bergejolak.
Menurut analisis dari pengamat pasar, Ibrahim Assuaibi, kombinasi faktor-faktor ini menciptakan "resisten" yang kuat untuk pergerakan harga emas. Ia menjelaskan bahwa baik sentimen pasar akibat kebijakan moneter maupun ketidakpastian politik global secara simultan mendorong permintaan emas. Assuaibi menekankan bahwa meskipun ada fluktuasi jangka pendek, tren kenaikan emas didukung oleh fondasi yang kuat dari berbagai sisi. Analisisnya memberikan gambaran komprehensif tentang mengapa emas terus dipandang sebagai investasi yang menarik di tengah lanskap ekonomi dan politik yang berubah. Pandangan ahli ini memperkuat prediksi kenaikan harga emas hingga akhir 2025.
Bagi para investor, prospek kenaikan harga emas ini membuka peluang sekaligus menuntut kehati-hatian. Meskipun proyeksi terlihat kuat, pasar emas tetap rentan terhadap volatilitas yang dipicu oleh berita mendadak atau perubahan kebijakan tak terduga. Penting bagi investor untuk mempertimbangkan diversifikasi portofolio dan tidak hanya bergantung pada satu jenis aset. Mengikuti perkembangan ekonomi global, keputusan bank sentral, dan dinamika geopolitik menjadi krusial untuk membuat keputusan investasi yang tepat. Emas tetap menjadi komponen penting dalam strategi investasi banyak pihak yang ingin mengamankan nilai aset mereka di masa depan.
Dengan demikian, proyeksi harga emas yang mencapai Rp 2,7 juta per gram pada akhir 2025 bukanlah sekadar angka, melainkan cerminan dari kompleksitas dinamika global. Kombinasi pelonggaran kebijakan moneter AS, ketidakpastian politik domestik dan internasional, serta tekanan inflasi global, semuanya bersinergi mendorong kenaikan ini. Emas terus menegaskan perannya sebagai aset pelindung yang tak tergantikan di tengah badai ketidakpastian ekonomi dan politik. Para pelaku pasar dan investor perlu terus memantau dengan seksama perkembangan global untuk mengantisipasi pergerakan lebih lanjut. Keselarasan antara ekonomi dan geopolitik akan terus menjadi penentu utama arah harga logam mulia ini di masa mendatang.
Referensi:
finance.detik.com